nacu (
oceansahead) wrote in
sheepandwolf2015-07-30 02:43 pm
![[personal profile]](https://www.dreamwidth.org/img/silk/identity/user.png)
![[community profile]](https://www.dreamwidth.org/img/silk/identity/community.png)
Entry tags:
burnt up black inside the broken truth
location: 758 Beijing West Rd, Jing'an District, Shanghai.
timeline: well-past midnight in late January 2020.
FONG TIANKAI
Antingnya dilepaskan saat Metro melewati stasiun South Shaanxi.
Itu keputusan yang cepat dan ia meraih ke telinganya, dengan hati-hati menarik keluar anting murah dari Hongdae, menyimpannya hati-hati bersama dengan kosmetiknya yang lain. Napasnya dihela dan dia seharusnya memilih rute yang lebih panjang, barangkali memutar lewat Changshu dulu sebelum kembali ke Nanjing, tetapi ia ingat ini nyaris pukul 12 dan Metro tidak tersedia dua puluh empat jam. Kereta yang akan ia tumpangi seluruhnya adalah kereta terakhir; tergesa, tergesa, kalau ia tidak mau menaiki taksi pulang dan tidak pula berjalan kaki. Napasnya dihela. Kepalanya pening.
Dia tidak ingin kembali ke apartemen. Dia ingin membiarkannya saja, membiarkannya menunggu, sementara dia bisa mengungsi ke rumah Lifen atau siapa pun yang mau menampung. Ini malam Minggu dan semua orang terjaga, bukan? Dia punya banyak pelarian. Opsinya tidak terbatas. Gemuruh di dadanya itu bisa diredakan kapan saja. Di ponselnya masih ada daftar panggilan dan ia ingin menghapusnya, membersihkannya, tetapi melihat nomornya saja ia sudah tidak bisa.
Atau lebih baik turun satu stasiun lebih awal dan tidak usah melanjutkan, agar ia tidak usah pulang sekalian. Ia bisa berjalan kaki ke tempat yang lain. Ia bisa mengulur waktu sedikit lebih lama. Ia tidak ingin mendengar pengumuman bahwa kini Metro berhenti di Huangpi, dua perhentian lagi, dan dadanya kembali nyeri. Kepalanya bersandar pada jendela yang kini melewati deret-deret neon iklan terowongan. Kabut di kepalanya kembali lagi.
Dia tidak siap mendengar suara itu. Kalau saja dia mengacuhkannya, barangkali teleponnya tidak akan berdering lagi. Barangkali dia tidak usah diingatkan akan rasa sakitnya lagi. Liburan, katanya. Mendadak bilang bahwa besok pulang. Bull. Dia tidak mau menerima omong kosong. Pulang dari perayaan peran baru Jiayi dan mendadak dia harus menghadapi yang lain. Dia tidak menyangka, tidak berharap, karena ini sudah lewat lima bulan dan satu-satunya yang ia harapkan adalah agar kenangannya hilang sekalian. Belum ada yang ia bereskan, sedikit pun, dari dirinya. Ia tidak ingin jatuh lagi. Setengah tidak percaya karena lima bulan lalu dia dihadapkan kepada realita yang mendorongnya dari tebing.
Matanya panas dan ada rasa nyeri saat ia melangkah memasuki lift dan menekan angka 17. Detak jantungnya keras. Dia tidak bisa berpikir. Dia tidak tahu apa yang tengah ia rasakan. Kesadarannya hanya berputar pada hal yang mudah: ia tidak mau bertemu, tidak siap bertemu, tidak akan siap sampai entah kapan. Betapa dia ingat segalanya di kala tiga kata muncul menyapa. Ia ingin mengumpat. Bel berbunyi dan lift berhenti.
Tidak bisa dipercaya, aku betul-betul tidak mengerti kamu. Itu yang ingin ia lepeh. Itu yang ingin ia katakan. Itu yang tertahan di tenggorokan saat ia melihat satu sosok di tengah koridornya, bersandar di dinding, tepat di depan pintunya. Dia masih menunggu. Tiankai mendekat dan tidak melihat wajahnya; badannya diputar langsung agar ia bisa menekan kode masuk. Jantungnya semakin berdegup keras. Dia tidak mau melihatnya. Segalanya akan kembali dan hari ini sungguh tidak menjamin apa pun yang akan terjadi.
Ia melangkah masuk dan membiarkan pintunya ditutup sendiri. Kunci di atas meja, mantel di kursi, napas dibuang. Lampunya tidak dinyalakan. Biar saja. Biar dia tidak usah melihat wajahnya. Dia tidak mengatakan apa-apa.
JAE SEUNGHYUN
Seunghyun tidak begitu ingat apa yang dia katakan sampai terdengar suara orang yang memutuskan sambungan telepon. Butuh beberapa saat sampai dia bisa mengambil kesimpulan apa yang harus dilakukan: tidak ada janji, tidak ada kepastian apa yang akan dia lakukan setelah itu. Seunghyun tidak berpikir kalau kehadirannya akan ditolak atau apa.
Baru sampai di gedung apartemen itu dia terpikir: bagaimana kalau Tiankai tidak datang, bagaimana kalau pada akhirnya dia tidak akan bertemu dengan siapa pun. Lalu ia berpikir seharusnya dia merencanakan ini sejak kemarin, atau lebih awal, karena sekarang terlalu rapat dengan waktunya pulang ke Seoul; penerbangannya besok malam, namun pikirannya kembali lagi -- memangnya apa yang akan dia lakukan? Dia bahkan datang hanya karena ingin. Di dalam kepalanya, itu cukup.
Kalau sudah begini, memangnya bagaimana. Setelah bertemu, lalu apa?
Lelaki itu menahan pintu. Masuk ke dalam dan mengikuti. Tidak ada cahaya kecuali dari jalanan--lampu perkotaan yang menembus gorden di beranda. Seunghyun menghela napas. Tak nampak inisiatif apa pun dari pemilik rumah selain untuk membukakan pintu. Tanpa meminta izin lebih dahulu, pemuda itu berjalan ke dekat dinding, mencari stop kontak lampu. Seingatnya ada di situ. Satu lampu menyala. Kegelapan membuat dirinya merasa tidak aman berada di tempat yang tidak dia kenali.
Biarpun sebenarnya tempat itu tidak terlalu asing, namun saat ini, terasa seperti tempat baru. Satu tahun sejak dia kemari. Hampir setengah tahun sejak dia menghentikan komunikasi. Sosok yang berdiri di tengah ruangan itu asing, meskipun nyaris tidak ada yang berubah. Setidaknya, ia ingin meyakinkan diri dengan begitu. Setidaknya, ia ingin memberikan kepastian diri sendiri agar tubuh dan pikirannya bisa lebih tenang. Tangannya masuk ke dalam saku jaket.
"Mama titip salam," malah itu yang dia katakan, berdiri kaku bersandar di dinding dekat tempatnya barusan menyalakan lampu. "Yang lainnya juga. Kemarin aku ketemu dengan Hyeyeong-noona, Rayoung-noona dan Riyoung-noona. Mereka menanyakanmu."
(Kenyataannya, semua seudah berubah, segalanya, yang melingkup di ruang tak kasat mata.)
Mereka berdiri berjarak, Seunghyun masih melihat sosoknya, namun rasanya begitu jauh. Seandainya ini bukan sekarang melainkan tahun-tahun kemarin, akan mudah baginya untuk mendekat, meraih, apa pun kecuali hanya sekadar berdiri bersandar dinding tanpa melakukan apa-apa. Pandangannya jatuh pada sofa, meja, dan dinding. Rambut pendek, bahu kecil dan wajah yang tidak bisa ia baca. Tidak begitu banyak yang berubah, dan untuk itu, tatapan matanya berangsur-angsur lega. Setidaknya sedikit yang bisa dia kenali.
Katakan sesuatu. Seharusnya, dia bisa lebih tenang dan mengatur apa yang akan dia katakan, semuanya. Tapi tidak bisa. Seunghyun tidak dapat mendefinisikan apa pun. Bibirnya sendiri seperti dikunci rapat; entah karena dingin, entah karena lainnya. Dulu, dulu, kepalanya terus menerus mengatakan penanda waktu. Dulu dia bisa mengatakan lebih banyak hal dari ini. Seunghyun menelan ludah. Tangannya mengepal. Dingin.
"Terima kasih karena boleh masuk."
FONG TIANKAI
Otaknya kosong dan ia tak tahu apa yang harus dibicarakan. Ruangan yang gelap berangsur-angsur menjadi terang dan Tiankai menelan ludah. Dia menyalakan lampu seolah berada di rumah sendiri, dan ia bimbang antara harus mengaitkan alis atau diam saja. Enggan, badannya berbalik untuk menangkap sosok yang membuatnya ingin segera kabur, menjauh, tidak mau dihadapinya sekarang. Dulu begitu mudah. Dulu semuanya dia rindukan, hingga detil yang terkecil. Hebat bagaimana perasaan bisa berubah. Dia berharap hatinya mati rasa, hingga tak usah sakit lagi. Degupannya masih ada.
Seunghyun tampak sama. Kini pemuda itu bersandar di dinding dan rambutnya sedikit lebih panjang, tubuh yang tegap, mengenakan jaket tebal. Penghangat ruangan ini belum ia nyalakan. Januari masih memiliki musim dingin di segala sisi, namun mantelnya telah ia lepas, karena dengan atau tanpanya, sekujur tubuhnya tetap terasa dingin. Mata Seunghyun ditatapnya dan ia tidak tahu harus mengatakan apa, merespons apa. Rasanya aneh kehilangan kata-kata di depan seseorang yang mengenalmu lebih dari siapa pun. Rasanya kaku. Seolah mereka baru bertemu hari ini dan kini masih tidak tahu apa kesukaan masing-masing.
Kata-kata hanya masuk dan keluar telinga, bahkan ia tidak mengatakan apa-apa setelahnya. Perlahan ia hanya merendahkan badan, duduk di armrest sofa ruang tengah. Tangannya gemetar. Napasnya dihela dan kepalanya ditelengkan, mata tak lagi memandang seberang ruangan, dan ia berusaha menghitung agar stabil, stabil, bicara sesuatu, jangan jatuh. Keberadaan Seunghyun di ruangan ini terasa canggung. Sudah lima bulan tanpa kontak dan mendadak satu panggilan telepon mengundangnya berada di dalam apartemennya. Sesungguhnya ia tak ingin kemari. Sesungguhnya, menurutnya lebih baik mereka bicara di luar, di tempat yang sepi, karena tempat ini berarti akan menyisakan jejak Seunghyun lagi.
Apabila besok datang dan pergi tanpa perubahan, segala yang terjadi hari ini hanya akan memperburuk. Lebih baik jangan nodai sekalian, agar ia tidak usah berberes lagi. Biarkan tempat ini bersih dari kenangan, agar ia bisa bernapas lebih lega. Jarak mereka jauh dan mereka tidak saling bertatapan, namun itu sudah cukup untuk membuat napasnya tercekat.
Dia berusaha agar suaranya tidak gemetar.
“Itu saja?”
Terdengar terlalu keras. Seharusnya kini ia bangkit untuk menyalakan penghangat. Tangannya tak bergerak di atas kulit sofa, jemarinya belum kuat benar untuk dikepal.
“Kamu mau bicara apa, sampai-sampai harus ke apartemenku segala?”
Kalau tidak ada, lebih baik pulang saja.
JAE SEUNGHYUN
"Mana mungkin begitu, kan. Aku pikir aku bisa berkunjung. Mengunjungi teman SMA. Teman lama. Yang dulu kemana-mana bersama. Bukannya aneh kalau tidak mau ketemu?" sudut bibirnya ditarik, membentuk senyum tipis. Ditatapnya perempuan itu lekat-lekat; mencoba mencari mana yang salah. Semuanya. Wajah yang pias dan pandangan yang tidak mengarah padanya, jemari yang bersentuhan kaku dan mulutnya yang terkunci.
Keberadaannya tidak membuat keadaan lebih baik, jelas. Ruangan yang sebenarnya lapang terasa pengap. Seperti membuat kata-kata yang hendak keluar hilang ditelan angin. Tiankai masih tidak membuka pertahanan. Langkahnya diambil, mendekat, satu langkah, dua langkah. Berhenti di tengah-tengah, lantai yang terasa dingin di kakinya. Kalimat itu tidak bisa terdengar normal bahkan oleh telinganya sendiri. Memang semua terdengar mudah seandainya mereka hanya teman lama. Bisa reuni sambil tertawa, seperti yang kemarin dia lakukan bersama Hyeyeong dan yang lainnya.
Sekarang, Seunghyun tidak bisa lagi. Seperti kedatangannya yang impulsif dan mendadak, seperti kepalanya yang sekarang berisi begitu banyak hal namun pada akhirnya yang keluar terbata-bata. Semua pikirannya soal seharusnya kita tidak begini dan beragam alternatif seharusnya buyar begitu melihat gadis itu lagi di hadapannya.
"Maunya bilang begitu. Tapi aku nggak bisa." Suaranya lirih, dan sekarang nyaris habis. Dia ingin bilang yang lain semacam dia mengerti dan dia tahu pasti mengapa seharusnya dia tidak datang, mengapa dia tidak boleh berada di sini, atau bahwa dia seharusnya pulang sekarang, dia tahu jelas sebelum gadis itu membuka mulut; tapi dia tidak mau, dan malah mengatakan hal lain.
Hening lagi.
Dia ingin ada di sini dan itu saja. Bibirnya digigit dan Seunghyun mengutuk hening yang mengungkung, pada cuaca dingin yang meliputi. Karena memang dia yang datang dan secara tidak langsung mengatakan kalau ada keperluan, sudah tentu dia yang harus melanjutkan pembicaraan. Pada akhirnya, tingkah laku yang dia pikir sudah dilakukan dengan banyak-banyak pemikiran, buyar lagi oleh tindakannya sendiri. Pada akhirnya, lagi-lagi dia berpikir, tidak apa-apa, karena dia pikir Tiankai akan menerimanya. Dia tahu dia kurangajar, tapi dia tidak mau berhenti saat ini saja.
Dulu, dia pernah bersumpah setidaknya pada dirinya sendiri. Kalau melihat Tiankai marah atau sedih, maka dia yang akan lebih marah, yang mau dia lihat adalah gadis itu yang tersenyum, tertawa, semua yang membuatnya bahagia. Kali ini, dia dihadapkan oleh keadaan seperti ini. Kalimatnya meluncur dengan suara aneh dan langkah yang kembali mendekat, tidak memedulikan tembok yang tak terlihat, berjalan sampai Tiankai benar-benar ada di hadapannya; matanya menangkap tangan yang gemetar dan Seunghyun tidak bisa tidak meraihnya. Dingin. Kaku. Satu tangannya yang lain menyentuh, rambut yang pendek dan wajah yang sudah begitu lama dia sentuh, dan semuanya. Menariknya agar melihat wajahnya.
"Soalnya sekarang aku cuma bisa bilang aku ingin lihat kamu. Aku mau di sini sampai besok. Aku nggak peduli yang lain. Bahkan aku bisa bilang aku nggak mau pulang. Lucu, kan? Dengan semua yang aku bilang waktu itu--" Pemuda itu tertawa getir. Kalimatnya meluncur tanpa pertahanan, genggamannya menguat. Suaranya mengecil dan jadi gemetaran hebat, wajahnya kaku, matanya panas, dan Seunghyun berdehem keras.
"Tiankai. Aku--aku nggak tahu aku bicara apa. Tapi aku sudah mencoba memikirkan alasan yang lebih baik. Sumpah."
Makanya, apabila gadis itu marah pun, tidak apa-apa.
Payah.
FONG TIANKAI
Dia tidak bisa bernapas.
Seolah ia hanya ingin menutup telinga, tidak usah dengar apa pun yang pemuda itu katakan, karena terakhir kali ia melakukannya, ia diberikan kekuatan untuk berdiri sendiri; kemudian semuanya runtuh. Tidak usah didengar karena tidak ada yang bilang kali ini akan aman, seolah semua yang melewati hanyalah kebohongan, dan ada satu bagian kecil di dasar hatinya yang bilang bahwa ia percaya dan akan selalu percaya, namun semuanya tertimbun gelap dan diam. Diam. Semuanya diam. Tiankai memejamkan mata dan perihnya merayap naik, ke rongga dada, ke tenggorokan.
Seperti sarkasme yang menusuk, sesuatu yang sudah pasti tidak mampu teraih, dan kini ia hanya menjadi orang yang skeptis. Segalanya sudah berjalan terlalu jauh untuk diputar kembali dan dia harap dia tidak sedang berada di sini mendengar semua ini, dia harap dia sedang berada di tempat lain, masih di Hengshan, di Huangpu, di kantor dan tenggelam dalam semua naskah, di tengah jalanan dini hari luar sana, di mana pun yang penting bukan di sini. Tidak mendengar langkah kaki yang mendekat, telapak bertemu lantai kayu yang dingin, suara yang memecah keheningan seperti petir. Dia tidak ingin.
Dia tidak ingin melihat Seunghyun yang tadinya diterangi cahaya lorong depannya; fitur yang ia kenali, alis, mata, hidung, bibir, semuanya sama. Kini mendekat, dan sekujur tubuhnya tidak bisa bergerak, dia masih tidak bisa bernapas dan rasanya sesak. Dia benci bagaimana lima bulan lewat sudah tetapi dia masih tidak bisa berpikir mengenai pemuda itu; dia kira sudah lewat. Fasenya selesai. Hari-hari lewat seperti angin dan dia cepat melupakan. Sudah cukup lama, bukan?
Dia mencari suara lain, alarm mobil yang berbunyi mendadak di luar, klakson bersahutan, detik jarum jam, bunyi getaran dari kulkas atau tetes air di bak cuci. Hal-hal yang biasanya mudah terdengar kalau ia sedang sadar betapa ia begitu sendiri. Hal-hal yang tadinya mudah tertangkap sewaktu apartemen ini hanya berisi dia dan dia merindukan seberang lautan, merindukan yang berdiri tepat di hadapannya, hangat tubuhnya, suaranya, hanya sejangkauan tangan.
Seunghyun ada tepat di hadapannya dan kata-katanya tidak bisa dipercaya. Saat jemari meraih tangannya dan menyentuh puncak kepalanya, turun ke pipinya, mengangkat dagunya, betapa herannya ia tidak bisa melawan, karena ia masih begitu rindu. Keterlaluan. Ia menatap Seunghyun dengan air mata yang menetes. Ini tidak adil karena dia bisa kemari dan bilang begitu, ketika berbulan-bulan yang lalu dia menghancurkan hatinya dan seluruh hal yang mereka punya hanya dengan satu panggilan telepon. Menetes lagi, dan lagi, dan matanya berkaca-kaca saat ia menatap Seunghyun sengit, dan ia mengumpulkan tenaga untuk menarik tangannya dan berdiri.
“Kamu cuma bisa ngomong,” kata-katanya keluar terlalu bergetar, suaranya pecah, dan ia bergerak menjauh. Ia tidak ingin melihat wajahnya, ia ingin menghadap ke titik-titik lampu di luar gorden, tetapi ia berbalik dan mengatur napas. Dadanya sakit.
“Kamu belum mencoba. Kalau kamu memang mencoba,” mendadak berkata-kata menjadi begitu susah. Ia menekap mulut dengan tangannya. “kalau kamu memang mencoba, kita bisa lebih baik dari sekarang,” sakit. Sakitsakitsakit. “Kamu nggak perlu membuatku merasa begini. Melihatmu saja rasanya sakit.”
Segala di sekeliling mereka gelap dan dunia seperti runtuh lagi, perlahan, di hadapan.
“Kamu membuatku percaya waktu itu. Kamu tahu itu, kan?”
JAE SEUNGHYUN
Untuk semua pernyataan itu, dia hanya bisa menjawab satu kata.
"Iya."
Aneh karena semua yang dulunya sederhana jadi rumit. Tangannya ditepis dan gadis itu berbalik; Seunghyun pada akhirnya diam, memperhatikan. Mengambil tempat yang sebelumnya dijadikan tempat gadis itu duduk. Seandainya semua mudah. Seandainya saja dia tidak membuangnya--namun Seunghyun tidak mau memikirkan itu, karena memikirkannya membuat kepalanya jadi sakit dan membuatnya ingat lagi kalau yang menyakiti gadis itu adalah dia dia dan dia sendiri. Ke mana, kamu mau menyalahkan siapa?
Karena itu juga Seunghyun tidak bisa menyediakan alasan yang lebih baik, karena dia sudah tahu sejak awal: tidak akan ada gunanya. Dia memikirkan apa yang lebih baik dikatakan, namun pada akhirnya sama. Hal yang dia inginkan adalah sesederhana itu; sesederhana datang dan kembali merasakan bahwa dia memilikinya, apa yang hilang dan dapat kembali ia pegang; memperbaiki yang kemarin. Tapi yang dia rusak bukan barang atau sesuatu yang dapat dibeli suku cadangnya, dan kini ia kembali berhadapan pada situasi di mana dia tidak suka dan tidak mau melihat Tiankai jadi seperti itu, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Setelah dipikir.... dari dulu selalu begitu, ya?" Seunghyun menatap sekeliling, membiarkan Tiankai tanpa menghampiri, biarpun telinganya mendengar nafas yang tersengal dan kata-kata yang tercekat, suara yang tertahan seperti sesuatu yang akan melompat keluar. Matanya kembali menatap ke arah lain, karena dia tidak mau melihat yang semacam itu kalau dia tidak bisa, dia tidak boleh mendekat. "Pada akhirnya, yang sakit selalu kamu."
Seunghyun pikir dia sudah lebih dewasa, namun dia kembali mengulanginya lagi. Seunghyun teringat dulu, ketika ia panik dan berkata jangan menangis, jangan menangis untuk segala hal yang dia takutkan akan terjadi, dan semua akan jadi baik-baik saja. Kali ini dia bahkan tidak bisa mengatakan hal itu lagi, membiarkan gadis itu di sana dan rasa nyeri merayap di leher sampai dada. Di atas meja ada kunci, beberapa langkah dari sana ada pintu dan Seunghyun mulai berpikir kalau seharusnya dia keluar karena tak mau gadis itu sesulit itu melihatnya--sekacau itu menatapnya, dengan mata yang berkaca-kaca dan semuanya.
Atau sebenarnya dia yang sulit menerima bahwa semua itu karena kehadirannya saja? Entah, pemuda itu tidak bisa mengira-ngira. Semua lebur jadi satu titik di mana yang ada tinggal rasa sakit.
"Bahkan setelah tahu itu, aku juga masih ingin jadi keras kepala." Matanya memindai ruangan, lantai kayu, jendela yang tertutup, dan benda-benda yang membisu, bibirnya melewatkan lagi tawa getir. Ia ingin berjalan lagi, mendekat, meraihnya, namun tepisan sebelumnya membuat dia tidak kuasa dan tidak bisa. Bahkan ketika sekarang, ketika mereka tidak terpisah apa-apa selain udara dan jarak beberapa langkah; ketika Seunghyun tidak dapat menyentuhnya, yang ada adalah rasa nyeri luar biasa. Seperti ada yang memukul dadanya kuat-kuat dan menyuruhnya untuk tidak bicara. "Waktu itu juga aku pikir yang salah kamu."
Meskipun begitu, dia kumpulkan juga energi untuk berkata-kata. Pemuda itu berusaha membenarkan suaranya yang sudah kadung berantakan, terjeda karena untuk setiap kata jadinya lebih sulit untuk dikatakan; ia tidak bisa memilih kata-kata yang tepat.
"Tadinya kupikir kalau lupa, lama-lama lelahnya akan hilang."
FONG TIANKAI
Waktu itu datang semudah mengingat hari kemarin, apabila dia mau mengilas balik. Dia kira dia sudah lupa. Dia kira dia melakukan apa yang harus ia lakukan; berjalan lagi, berdiri lagi, mencoba memulai dari awal. Lagipula, negara ini tidak pergi darinya, kota ini selalu merupakan bagian dari dirinya, dan memang tidak sulit untuk kembali ke rutinitas yang dulu. Hanya membutuhkan kehadiran satu orang untuk menjungkirbalikkan semuanya dan kembali menyeretnya ke tahap di mana ia tidak mampu bergerak, di mana ia tidak bisa melakukan apa-apa. Seolah otaknya bekerja hanya untuk berpikir apa yang dikatakan, apa yang dilakukan. Tiankai memiliki kesulitan membagi hatinya menjadi dua, satu asal, satu cinta pertama. Dia tidak tahu mana yang ingin ia lepaskan.
Matanya menangkap titik lampu gedung-gedung di luar jendela. Gordennya semi-transparan dan yang ada hanyalah gelap meliputi ruangan, dan ketika ia tidak dapat melihat apa-apa, suara Seunghyun terdengar semakin jelas. Satu jam yang lalu ia hanyalah suara di telepon. Lima bulan yang lalu ia sudah tidak tahu seperti apa rupanya. Dia bisa berbalik dan mengamatinya kalau dia mau; dia bisa menunjukkan mana yang berubah, mana yang tidak. Kakinya seolah tertanam di lantai dan dia memejamkan mata lagi, mengatur napas, mendengarkan kata-kata yang menyelam masuk dan keluar pendengarannya. Pundaknya masih bergetar. Jemarinya dingin. Suara Seunghyun lirih dan jedanya pelan, tuturnya tidak semakin keras.
Tiankai bisa menghitung hari-hari di mana dia ingin mati. Ada kalanya dia akan keluar dari apartemen yang pengap dan menahan tangis, berjalan melewati udara Shanghai yang kelewat dingin. Dia bisa menyebutkan hari di mana dia merasa paling putus asa, di mana ada bagian dari kepalanya yang ingin ia tarik keluar namun tidak bisa, bagian hatinya yang paling dasar. Dia tidak ingin hidup mengingat-ngingat itu semua. Dia tidak ingin diingatkan, dia tidak mau tahu---Seunghyun hanya ada beberapa langkah di belakangnya, dekat sekali, dan dia masih tidak bisa melihatnya.
Dari dulu mereka berdua keras kepala. Apabila kamu mengadu batu dengan batu, maka keduanya akan pecah. Dari dulu mereka meledak apabila dipaksa. Menjelang kepergiannya, segalanya ditahan, dan barangkali itu juga yang menjadi sumbunya. Hal-hal yang Seunghyun katakan begitu sulit ia cerna karena hatinya masih meluap dan seluruh kepalanya juga, dan apabila ia ingin bicara tentang penyesalan, maka Tiankai tidak bisa meladeninya. Pening. Berapa dalamnya napas yang ia tarik, ia akan selalu ingin berteriak lebih keras. Ia menahan isakan.
“Bagaimana kalau sekarang?”
Suaranya pelan dan lelah. Perlahan ia menoleh, menangkap sosok yang duduk di sofa. Ia mengucapkannya satu-satu, tidak punya tenaga untuk menyentak apalagi berteriak. Tubuhnya berbalik dan ia menjeda lama, menangkap seraut wajah di tengah kegelapan. Apakah ia masih serindu itu?
“Karena kamu sudah tahu semua yang tadi. Kamu sudah bilang barusan,” dia tidak mau dengar. Degup jantungnya memelan. “Kamu sekarang capek?” satu, dua, tiga. Merasa begini, berpikir begini, menunggunya begini. Langkahnya mendekat dan ia mengukur jarak di antara mereka berdua. Hanya berkurang sedikit. Dia berhati-hati.
“Jawab aku,” pelan. Kecil. Dia memutuskan untuk melangkah sedikit lagi dan perlahan duduk, dengan jarak cukup agar suaranya bisa terdengar. “Kamu datang kemari jauh-jauh. Apa yang sesungguhnya kamu mau?”
Dia tidak meminta jawaban yang tadi karena dia merasa demikian, sama saja, setiap jam dalam setiap hari.
“Apa yang sejujurnya kamu inginkan, Seunghyun?”
Dia mencari sebuah jalan.
JAE SEUNGHYUN
Semua tidak akan sama lagi.
Betapa pun dia berpegangan ke waktu-waktu yang pernah mereka lewati, namun semua tidak akan sama lagi. Ada jeda, ada banyak hal yang berubah selama mereka tidak bertemu. Seunghyun pikir dia tidak harus memasukkan Tiankai ke dalamnya selama perubahan hidupnya terus terjadi. Atau paling tidak melihat gadis itu dalam perspektif yang lain. Bahwa nanti pikirannya akan lebih lapang. Sebagian dari itu adalah benar: hal-hal yang selama ini dia lewati, fokus kepada diri sendiri tanpa ada interupsi.
Pada akhirnya hanya satu saja yang dia mau.
Pertanyaan Tiankai terdengar untuknya seperti sebuah pertanyaan retoris, yang membuat Seunghyun ragu apakah ia harus menjawabnya atau tidak. Dia kira dia sudah menyampaikan kata-katanya dengan jelas. Napasnya kembali diatur dan Seunghyun menghela napas panjang. Nyaris satu tahun tidak bertemu langsung dia kira sudah cukup lama, dan dia kira dia bisa lebih tenang menghadapi. Namun nyatanya sekarang kepalanya sulit berpikir jernih tatkala bertemu langsung.
Malam menandak dan sekarang sudah masuk ke dini hari. Seunghyun menghitung berapa jam lagi sampai ke penerbangannya malam nanti, namun pikiran itu menghilang dengan cepat. Ia tidak lagi mempedulikan waktu, cahaya lampu-lampu yang membayang di dinding, ataupun suara-suara kendaraan di luar. Matanya menatap lantai namun pandangannya bergerak mengikuti. Ke langkah kaki yang mendekat. Ke tubuh yang menghempas di sebelahnya, dan Seunghyun tidak menoleh. Suara gadis itu letih dan perlahan, dan Seunghyun mendapati dirinya diam.
"Sekarang aku nggak capek." Kepalanya tertunduk dan matanya menyusuri jemarinya sendiri yang terangkum di atas pangkuan, dari jari kelingking kiri ke jari kelingking kanan. Mengamati. Dia tidak bisa mengatakan hal-hal panjang, dan sekarang pun begitu; semua isi kepalanya hanya bisa ia jelaskan paling baik lewat ungkapan yang paling simpel. Pandangannya beralih pada Tiankai. Dekat lagi, di sebelahnya. "Tapi ada banyak hal yang kupikirkan."
Aku tidak mau kita begini. Jawaban pertanyaan Tiankai teredam dalam kepala. Seunghyun tidak bisa berpikir apa yang harus dia lakukan dan apa yang bisa ia lakukan untuk menjelaskan dengan lebih baik. Pikirannya bergerak cepat dan sederhana, dengan kosa kata yang seadanya. Dia tidak punya rencana. Kepalanya mengatakan keraguan yang mungkin persis sama dengan lawan bicaranya--Seunghyun bukannya tidak menangkap keraguan, tanda tanya, dan bahkan wajah tidak percaya. Jawabannya tenggelam dalam rasa bimbang.
Pada akhirnya, memang pasti ada yang berubah. Semuanya. Ia tidak bisa berpegang pada dua tiga empat tujuh tahun lalu di kala semuanya masih baik-baik saja dan mereka tidak memandang apa pun sebagai kesulitan. Pada saat ketika mereka tidak tahu medan apa yang dihadapi dan berkata kalau mereka bisa. Tapi tetap saja sekarang dia berada di sini. Berpegang pada entah apa. Mungkin keegoisan. Mungkin kekeraskepalaan. Mungkin juga satu-satunya taruhan, atau mungkin bahwa gadis itu masih, masih ingin ia masukkan dalam kehidupannya. Biarpun satu benang. Masih lebih baik daripada tidak sama sekali.
"Aku nggak mau kita begini. Atau melihat kamu begini." Matanya masih menatap. Ketika melihatnya seperti ini, pemuda itu tidak bisa serta-merta menghampiri. Sentuhannya pelan-pelan dan hati-hati. Bagaimana pun dia takut menyakiti. Biarpun begitu, dalam kepalanya, ia ingin menyakini bahwa masih tersisa bagian dari dirinya yang bisa jadi penenang. Lengannya terulur menyentuh rambut Tiankai lagi; ke helai-helai yang menghalangi dahi, ke pelipis dan telinga kiri. Kosong. Dia tak dapat membaca ekspresi gadis itu dan dia menemukan diri bertanya.
"Kai. Kamu benci aku?"
Karena datang. Karena merangsek masuk. Karena seenaknya. Karena keluar masuk sesukanya. Karena semuanya. Matanya mengamati mata yang merah dan jejak-jejak sembap. Tatapan pemuda itu jadi sayu. Tidak. Dia tidak datang untuk begini. Dia tidak datang untuk membuat gadis itu menangis lagi. Karena itu, bila memang gadis itu benci, mungkin pada akhirnya memang dia harus menyudahi. Dadanya sakit lagi.
FONG TIANKAI
Pandangan mereka bertemu dan Tiankai tidak berkedip, berusaha menghitung jeda dan berapa lama sampai jantungnya berhenti berdegup takut, napasnya berhenti bergetar, sampai dia menemukan kembali tatapan yang ia kenal. Nyatanya Seunghyun tidak pernah menjadi orang asing. Dia tidak pernah menjauhkannya dari hatinya. Dia tidak pernah merencanakan apa yang terjadi apabila jarak lima bulan kemarin merentang, merentang jauh hingga belasan tahun dan mereka harus bertemu di saat itu. Mereka tak akan pernah menjadi teman lagi. Dia tidak bisa memberi nama apa-apa lagi. Apa yang tercipta memberikannya sebuah ketakutan, keraguan, karena dia tidak akan pernah bisa membayangkan mereka jadi seperti apa. Momen ini pun, ketika segala bagaimana kalau... terpecah membentuk ratusan pertanyaan dan perkiraan dan dia bisa merasakan semua kebimbangan mereka melebur jadi satu; dia masih merasa takut.
Wajah Seunghyun terliput gelap. Hanya ada sedikit cahaya, sedikit, dari jingganya lampu di depan dan samar-samar dari jendela bertutup gorden. Dia ada di sana, hanya sejarak kecil, tidak lagi jauh dan tak tergapai sejauh apa pun tangannya mengulur. Dia di sini, dia yang datang dengan kata-kata yang seharusnya dia ucapkan sejak lama. Tiankai bisa menyentuhnya kalau ia mau. Ia bisa bangkit dan meraih dan menanyakan semua hal yang ingin dia tanya, terus, sampai matahari terbit, sampai saatnya dia pulang lagi. Dia bisa melakukannya. Di sini mereka tidak berbatas zona waktu, tidak berbatas lautan, dan dindingnya pecah.
Dia masih merasakan hal yang sama, sesulit apa pun dia mencoba lupa. Aneh rasanya kalau kau pulang dengan meninggalkan hatimu di sebuah kota yang tadinya tidak kau kenal sama sekali. Seunghyun membawanya kembali. Ia menggenggamnya di tangannya dan kini pemuda itu meraih, menyentuh rambut dan wajahnya, dan kali ini ia tidak mundur lagi. Sentuhan itu masih dikenal olehnya. Dia merindukannya. Dia merasa begitu bodoh dan lemah karena nyatanya waktu berjalan dan dia masih kembali ke tempat yang sama, bahkan setelah semua perasaan yang ia tidak mengerti dan pikiran yang menyiksa kepalanya. Matanya memandang, kemudian mengerjap.
Aku nggak mau kita begini.
Apa yang kamu mau?
Aku?
“Nggak,”
Matanya dipejamkan dan ia merasakan jemari itu hangat di pipinya. Ia rindu, rindu, sangat rindu, ia ingin jatuh lagi dan tidak usah bangkit lagi. Ia sudah terlalu dalam tergenang. Napasnya tercekat dan ia hanya menggeleng, menunduk mengumpulkan kekuatan. Ia mengangkat kepala, mencari pandangan itu. Tidak pernah. Selalu ada sebagian kecil diriku yang mencintaimu. Kamu tahu? Itu menyedihkan. Hatinya kosong dan seberapa besar dia marah, menangis, bertanya, dia kembali ke jawaban yang sama. Kamu selalu memiliki tempat di sini dan tidak bisa aku hapus. Sekarang kamu berada di mana?
Dia meraih tangan Seunghyun, menurunkannya, menggenggamnya dan meletakkannya di pangkuan. Dia masih bisa menelusur kontur yang ia kenal, kasar, selalu sedikit lebih besar. “Kupikir aku benci kamu. Kupikir aku bisa lupa, yang kemarin,” aku juga nggak mau kita begini terus, “tapi sekarang, aku...” dia menggeleng, dan suaranya masih pelan. Rasanya seperti memukul udara kosong, mencari sesuatu yang tidak ada. Mimpi indah tidak ada di dunia ini.
Tatapannya naik dan lurus. Dindingnya ia buka seluruhnya. Diberinya jeda lama. Hanya ada dia dan Seunghyun, ia bisa mendengar napasnya, merasakan hangat tubuhnya.
“Seunghyun, kamu cinta aku?”
Diberinya jeda.
“Kamu akan berjuang untukku?”
Karena kemarin kamu menjauhkanku. Kamu sendiri yang membuatku ragu. Karena aku tidak yakin kita bisa melakukannya, sekarang aku juga tidak tahu kita harus apa.
JAE SEUNGHYUN
Ada yang mencelos ketika Tiankai menanyakan itu padanya; dengan kalimat yang tergantung dan mata yang lemah. Seunghyun ingat dulu menjawab pertanyaan semacam itu adalah hal yang jauh lebih mudah, dengan perasaan yang berbeda. Karena dulu Kali ini, dia bahkan tidak bisa menjawab 'iya'. Pada pertanyaan yang dulu bisa ia jawab sesukanya, kali ini dia terdiam, lama, sesak menjalar sampai ke tenggorokan. Dengan pertanyaan itu, dia dipaksa berpikir.
Ada di mana mereka sekarang? Akan mudah untuk bilang lagi aku tidak peduli yang lain, pokoknya aku hanya ingin di sini saja. Meraih tubuhnya dalam pelukan dan mendapatkan kembali apa yang kemarin terlewat dan terjangkau, yang terlampau takut untuk dia sentuh, pada wajah dan kehangatan yang dia rindukan setengah mati. Tapi bagaimanapun itu hanya bisa untuk 'sekarang'. Pertanyaan gadis di hadapannya, dengan genggaman di tangannya, dan Seunghyun menahan mati-matian tekanan yang muncul di lehernya dan menahannya untuk berkata-kata.
"Kalau aku bilang iya, kamu percaya?" suaranya gemetar, matanya memandang dua bola mata yang ada di hadapannya dengan tatapan bimbang. "Aku nggak bisa mengatakannya di saat aku jadi orang yang menyakiti kamu begini."
Bukan karena dia tidak mau menjawabnya. Dulu, seingatnya, ia bisa menjawabnya dengan cara apa pun yang dia mau, tanpa harus merasa sakit ataupun juga sedih; tidak sekarang, ketika semua pertanyaan itu berselimut ragu dan gadis itu bahkan harus berpegangan pada pertanyaan semacam itu, dan Seunghyun jadi mempertanyakan kehadirannya sendiri. Mendengar pertanyaan itu rasanya seperti pisau yang menusuk kepala. Bahwa dia tidak bisa memberikan gadis itu rasa aman, atau sedikit rasa percaya sehingga membuatnya mengeluarkan pertanyaan seperti itu.
Karena pertanyaan itu benar-benar pertanyaan, bukan pernyataan.
(Seingatnya, dulu, tidak serumit ini.)
"Aku ingin selalu dengan kamu. Tapi kalau dengan keadaan sekarang, mungkin akhirnya aku bakal menyakiti kamu lagi."
Bola mata Tiankai gelap dan Seunghyun tidak bisa berkaca. Yang dia tangkap hanya wajah yang lemah dan bertanya. Seunghyun ingin menggantinya; ubah semua jadi senyum dan mata yang berbinar serta bercahaya, Seunghyun ingin semua kembali jadi baik-baik saja. Dia berharap cahaya lampu yang tadi ia nyalakan tidak perlu membuat berkas sinar yang samar dan menampakkan bagian bawah mata yang merah dan semuanya.
Mungkin pada akhirnya Tiankai yang bisa dia cintai adalah yang berada dekat dengannya. Mencintai Tiankai yang ada dekat bersamanya dan selalu ada di sampingnya; yang bisa ia sentuh dan Semua tampak tidak dapat ia lihat sekarang; dulu begitu mudah. Aku begitu ingin kamu pulang, denganku di mana aku bisa menjaga kamu; betapa banyak keraguannya. Kota ini juga rumah Tiankai, dan dia tidak bisa mengambil apa yang sudah berada di tempat yang tepat. Dengan segala hal yang memang sudah menjadi rumah gadis itu sejak awal.
Biarpun begitu, dia ingin percaya--dan mendapat kepercayaannya.
"Kalau aku bilang yang aku mau kamu pulang denganku. Biarpun pasti nggak sekarang dan masih banyak yang harus kita lakukan. Kamu mau?" Pertanyaannya samar dan nadanya berbalut permohonan. Seunghyun tahu sebenarnya dia tidak berhak mengatakan ini. Tidak ketika dia adalah orang yang sudah menyakiti Tiankai berkali-kali. Tidak ketika gadis itu menanyakan hal-hal trivial dengan rasa takut yang jelas terdengar di telinganya. Mengatakan 'aku ingin kamu' terasa mudah bila itu adalah sesuatu yang temporer dan tak usah dipikirkan lagi esoknya. Menginginkan, lalu melupakan. Ketika ingin, maka ia tinggal menemuinya lagi dan besok dia bisa melupakan lagi.
Karena yang dia inginkan lebih dari itu dan saat ini dia tahu situasinya tidak semudah kemarin dan dengan begitu banyak perubahan di antara mereka, Seunghyun tidak tahu apakah dia masih bisa mendapat sedikit kepercayaan. Dia ingin meyakini kalau dia masih boleh; dengan pegangan bahwa gadis itu tidak membencinya, namun betapa takut juga pemuda itu bila dia harus menyakiti Tiankai lagi. Matanya kembali memejam, merasakan sentuhan di tangannya, jemari yang sungguh dia kenal dan membuatnya ingin melupakan yang lain.
FONG TIANKAI
Bahkan kata-katanya terdengar hambar dan mentah. Sukukata yang melekat dan kini beraksen, bercampur air mata, disendat lupa. Dia tahu. Dia mengerti semua yang Seunghyun ucapkan dan dia hanya ingin bilang dia tahu, dia mengerti mereka sedang berpijak di antara dua hal, dan mereka harus membereskannya apabila mereka hendak melangkah. Yang ia tidak tahu adalah bagaimana caranya. Dia ingin percaya. Dia ingin bisa mengiyakan dengan mudah karena dia tidak suka merasa takut. Dia tidak suka harus diyakinkan, karena dulu untuk melompat tanpa ragu terasa begitu mudah. Kini ia bimbang dan terus meragu, tak mantap, seolah tangan pemuda di pangkuannya sesungguhnya tak ada di sana.
Betapa dia kembali takut dan terlingkupi kekhawatiran; di hadapannya, harusnya, adalah penyembuhnya. Bagaimana caranya?
Yang mereka lakukan hanyalah saling bertanya. Kamu bisa? Mencari kepastian sebelum berbuat. Memastikan mereka tidak melakukan kesalahan yang sama. Tiankai hanya ingin mendengar satu jawaban yang pasti, dan barangkali kalau dia dengar itu, maka dia akan kembali percaya lagi. Mereka berdua bahkan tidak tahu bagaimana caranya melangkah lagi. Lantas bagaimana? Karena dia tahu apa yang dia inginkan, dan rasanya seperti merangkak menuju tujuan yang turut menjauh. Apa yang Seunghyun ucapkan begitu tidak pasti, dan dia merasa semakin bodoh karena masih terus percaya, bahkan kini.
Masih terus jatuh. Masih terus mencari alasan agar terus jatuh. Betapa hatinya belum sembuh betul. Selalu meminta lebih dari yang bisa ia bayar.
Jawaban untuk pertanyaan Seunghyun selalu ada di pikirannya, sudah siap bahkan sebelum ditanyakan, hal yang paling ia inginkan di dunia. Semua sebelum ia kembali dan ditelan oleh kota yang menjadi masa kecilnya. Sebelum ia dijauhkan dari negara tempat hatinya bertambat. Begitu? Dia masih menyimpan sisa-sisanya, semuanya, bertanya-tanya apakah suatu hari segalanya bisa hangat lagi. Hanya saja, kali ini bukan hanya mengenai keinginan. Ini mengenai dua orang dan karir dan keluarga dan ada terlalu banyak yang harus ia urusi apabila ia ingin kembali lagi. Dunianya diperluas dan bukan hanya Seunghyun di dalamnya, meski itulah yang ia inginkan: cukup dia saja. Tidak semudah itu.
Aku tahu.
Dia mengambil napas dan suaranya lirih. Apabila membicarakan ego, dia selalu bisa memenangkan dirinya sendiri. “Mau,” itu yang kuinginkan sejak dulu. Itu yang kukira akan terjadi. “Tapi akan butuh waktu lama, dan kamu harus menungguku sampai aku bisa kembali,” pandangannya lurus. Tidak bisa lagi lelah. Tidak bisa lagi tanpa arah. Ia berusaha terdengar tegas.
“Kalau memang aku kembali, kamu harus menjagaku agar aku nggak pergi,” karena kalau itu terjadi, ke mana lagi ia akan pulang? Apabila ia memilih dan meninggalkan yang satunya, ada banyak yang harus ia lakukan. Apabila ia diberikan jaminan, apabila ia diberi kepastian... “dan aku nggak bisa kemana-mana lagi. Kamu bisa janji padaku itu?”
“Aku juga ingin selalu bersama kamu,” dadanya sakit. Dia menghabiskan hari-harinya mengais dan mengais dan tidak hidup sama sekali, “tapi kamu harus tahu... Kita akan bagaimana seterusnya.”
Dia tidak bisa pulang apabila mereka hanya akan hidup seperti kemarin; dia akan harus memilih, dan ini bukan lagi hanya mengenai dua negara. Ada hal-hal yang lebih besar. Di dalam hatinya, dia bisa selalu menjawab ya.
JAE SEUNGHYUN
Dulu, Seunghyun pikir dia sudah mendapatkan dunia.
Karena dia merasa aman. Semua bisa ia pegang dan ia tidak perlu takut. Rentang kehidupannya aman dan menyenangkan, dan yang paling penting adalah dia merasa sudah cukup untuk bisa diandalkan. Hingga suatu saat dia diingatkan kalau dia hanya berdiri di puncak gunung es. Bahwa dia masih terlalu muda, masih terlalu banyak hal ini dan itu. Seingatnya dulu mencintai begitu mudah: berpegang hanya dengan keyakinan di dalam dada maka dia akan baik-baik saja. Sekarang, untuk mulai yakin pun dia tidak tahu harus mulai dari mana.
Dia ingin bilang kalau dia bisa. Sumpah, dia ingin. Tetapi bibirnya kaku. Tidakkah cukup kalau memang hanya ada mereka saja? Dia tidak mau memikirkan yang lain, kalau ada banyak hal sulit yang menunggu di depan dan dia takut kalau harus menjadi seperti itu lagi, di mana ia tidak tahu tempatnya berada dan kemudian melepas lagi, untuk kemudian kehilangan lagi. Lelaki itu mengalihkan pandangan ke lantai, ke jejak-jejak cahaya yang tipis dari sisi lain ruangan, ke ruangan yang asing dan pengenalnya hanya sosok gadis di hadapannya.
Tempat yang asing dan situasi yang asing, sentuhan yang ragu-ragu dan semua yang terasa tidak pasti. Semakin sakit kala kini tidak ada dinding di sekitar mereka, dan mereka tidak perlu lagi bicara dengan perantara atau teks, tetapi dia merasakan ada ruang yang tak kasat mata; ruangan yang dia buat sendiri dengan ketakutan dan kesulitannya untuk meyakini dirinya sendiri. Seakan-akan wajah yang ditatapnya bisa hilang besok, tidak kembali, dan dia tidak bisa mengejarnya lagi.
Kali ini, mereka tidak hanya bicara soal 'saat ini' saja.
Bayangan kekhawatiran muncul lagi di pelupuk mata. Dia ingat janji yang ia nyatakan dan kemudian ia langgar, serta banyak rasa sakit setelahnya. Dulu, dia tidak tahu. Setelah itu, semua terasa sangat sulit. Pada Tiankai, dia ingin bilang kalau dia bisa. Tapi saat ini dia merasa begitu kecil--ketika seharusnya dia Mereka harus mulai dari awal lagi. Seakan-akan yang kemarin hanya sesuatu yang bisa ia dapatkan tanpa usaha dibandingkan yang sekarang mereka hadapi.
Kata-kata Tiankai memasuki pendengarannya, dan matanya memandang gadis itu lama-lama. Kembali diingatkan kalau gadis itu masih mempercayainya. Selalu begitu, di kala dia bahkan tidak punya apa-apa; saat ini Seunghyun hanya punya dirinya sendiri dan tidak yang lain, kala dia tinggal separuh selongsong kosong dan gadis itu masih mau bergantung padanya yang bahkan butuh diyakinkan terlebih dahulu. Pijakannya goyah dan seperti mau runtuh.
Ia rindu genggaman tangan yang erat dan kaki yang berlari tanpa harus khawatir akan berakhir di mana. Dia ingat betapa mudah dia merasa aman. Hanya dengan memeluk dan merasakan detak jantung yang dekat dengan jantungnya sendiri, kehangatan yang ia kenali dan jemari yang menyentuh tubuhnya. Lama ia mengambil jeda, memperhatikan wajah yang sekarang menatapnya dengan saksama.
Seunghyun menelan ludah. Dia adalah orang yang seharusnya bisa bilang untuk menunggunya dan dia yang akan datang. Sekarang, Tiankai yang mengatakan hal itu padanya, memberikan kesempatan padanya, dengan suara yang tegas dan bertanya.
Entah sejak kapan dunianya terasa terlalu besar dan Seunghyun tidak bisa menggenggamnya sendiri, tidak bisa menopangnya untuk mereka berdua. Hal-hal yang sekarang terasa jauh dari realita, hal-hal yang tidak bisa disentuh oleh nalarnya. Dia selalu merasa takut dengan hal-hal semacam itu; bahwa dia akan harus membuat Tiankai berkorban lebih banyak, mengambilnya dari tempatnya berada sekarang, dan membuat gadis itu harus lepas dari rumahnya yang seharusnya. Namun berpegang dengan jawaban 'mau' dari Tiankai, membuatnya mencoba memberanikan diri.
Selama apa itu 'lama'. Apa dia boleh mengatur seberapa lama.
"Dua tahun atau tiga tahun lagi." Ia menatap Tiankai, suaranya perlahan, pandangannya tidak lepas. Genggaman tangannya pada tangan gadis itu menguat. "Ayo menikah."
Tangannya menyentuh wajah gadis itu lagi, hati-hati; wajahnya mendekat dan perlahan pada akhirnya menarik Tiankai pada pelukannya. Ia mendekap erat gadis itu dan tubuhnya sendiri berguncang; wajahnya bersembunyi di bahu Tiankai, suaranya tercekat dan tersela oleh isakan, berbisik.
"Aku nggak pernah mau melepaskan kamu."
Aku tidak pernah mau. Hanya saja aku tidak tahu bagaimana caranya mempertahankan kamu. Maaf karena sudah jadi laki-laki yang selemah ini. Maaf, maaf. Karena semua jadi begini. Sekarang, apa kamu masih mau menerima aku yang begini?
FONG TIANKAI
Dia tahu apa saja yang harus ia pentingkan.
Satu setengah tahun di negara asalnya dan matanya dibuka oleh berbagai hal. Dunia ini tidak sesempit Seoul semata. Dunia ini tidak sesempit hatinya. Dia ditarik pulang setelah tujuh tahun di negara orang, dan kalau keluarganya pikir itu sudah cukup, maka dia tidak diberi pilihan selain mencoba menerima. Hatinya tidak pernah benar-benar pergi, tetapi ada hari di mana ia mencoba melupakan dan berjalan lagi, kali ini di satu tempat saja, agar dia tidak usah berpikir terlalu banyak. Melepaskan lelah di pundak dan menerima saja apa yang diberikan kepadanya. Nyatanya, ada terlalu banyak yang ia dapatkan. Banyak jalan yang boleh ia pilih.
Dan lagi, ia tahu ini bukan hanya soal dirinya. Ini mengenai keluarganya, mengenai karirnya, tahun-tahun dan masa depannya yang masih akan datang. Dia tidak bisa goyah apabila hanya untuk keseharian yang tanpa tujuan. Dulu mereka bisa hidup seolah mereka punya banyak waktu. Mereka tidak perlu berencana. Cukup tinggal di saat ini saja, dan asal mereka bersama, mereka bahagia. Sebagaimana besarnya ia merindukan masa-masa itu, dia tidak bisa. Apa yang ia inginkan tidak akan dia ambil kalau memang tidak ada kepastiannya. Ada harga yang harus dibayar, kini--dan memilih satu tanpa berpikir matang hanya akan mengembalikan mereka ke petak yang sama.
Lebih baik menyudahi daripada mengulang kembali. Dia tidak ingin mereka berdua merasa sakit. Dia mengerti, dia tahu apa yang sedang ia minta, dan kalau itu terlalu berat, barangkali dia bisa melepaskan. Mungkin mereka sudah ada di jalan yang benar. Mungkin dia harus merelakan, sungguhan, meski tidak ada yang ia inginkan lebih daripada ini.
Di dalam gelap dia bisa melihat mata Seunghyun kali ini; sedikit lebih terang, lebih lembut, dan genggaman di tangannya menguat. Ada jeda, ada detik jarum jam, ada banyak yang seharusnya ia dengar apabila otaknya tidak beku dan badannya tidak kaku. Hanya ada satu, dua kalimat, dan sesuatu di dadanya lepas. Seperti katup yang terbuka. Seperti sekat yang akhirnya diangkat. Napasnya perlahan, detak jantungnya memburu, dan ketika ia sadar, Seunghyun mendekapnya erat dan kepalanya ada di bahunya.
Ia hanya ingin memejamkan mata dan mengingat momen ini lekat-lekat. Takut apa yang dipikirkannya menjadi nyata; tetapi kali ini takutnya lenyap, dan sesaat dia bingung harus merasa apa. Ada banyak yang mengaliri dadanya. Masih ada suara Seunghyun yang terdengar begitu jujur, dan perlahan, ada hangat yang meresap. Sesuatu terasa benar, dan dia merasa begitu ringan.
Ada rasa bahagia.
Lengannya melingkari tubuh Seunghyun dan refleks jemarinya bergerak, menyisiri rambut, di atas kulit kepala. Mengingat-ingat rasa yang sudah lama hilang. Matanya panas dan dekapannya semakin erat karena akhirnya, akhirnya, ia kembali merasa ditopang. Napasnya tercekat lagi karena ia mendengar Seunghyun mengisak dan tubuhnya bergetar, suaranya lirih. Ia memeluknya kuat dan tidak bisa berbicara. Kepalanya penuh dan kosong sekaligus, dia tidak bisa berpikir, semuanya meluap. Ia rindu, senang, rindu, bahagia, ringan, lepas, lega.
Ketika dia menarik diri untuk melihat Seunghyun, jemarinya masih bergetar. Ia mundur agar wajah pemuda itu bisa ditangkupnya dan dilihatnya seksama. Matanya merah dan basah. Air matanya sendiri menetes saat ia menghapus air mata dari pipi dan bawah mata Seunghyun, sembari bersuara seperti tertawa dan terisak. Dadanya bergemuruh. Suaranya seperti bisikan.
“Ayo menikah,”
Dia mengangguk, mengulang, jemari menyusur dahi, menyibak rambut yang memanjang, dan tertawa lagi. Mencoba tersenyum. Wajah yang ia rindukan tepat di hadapan, kini disentuh, ditatap, begitu dekat. Mereka berdua menangis dan dia tidak peduli. Terlalu banyak. Terlalu banyak.
Matanya memejam dan dahinya menyentuh milik Seunghyun; dan di saat itu mereka hanya berdua, tetapi Tiankai merasa kuat. Yakin.
“Gomawo.”
Tidak ada yang kuinginkan
lebih dari ini.
JAE SEUNGHYUN
Dia berpikir kalau dia masih terlalu kecil untuk semua itu, bahwa dia masih belum bisa dan dia juga dilanda ketakutan bahwa dia belum mampu. Dia tak yakin Tiankai mau--bahkan sekarang, ketika wajahnya ditangkup dan gadis itu mengulang kata-katanya dengan jelas, hanya beberapa jengkal dari wajahnya sendiri; ia dilanda kebingungan sekejap. Mencoba mencerna. Memastikan. Namun yang dia dengar itu benar, dan berikutnya gadis itu mendekat, kening menempel dengan ucapan terima kasih yang lirih;
Seunghyun tertawa.
Wajahnya pasti super bodoh sekarang, dan dulu mungkin dia akan segera pergi dan menghindar untuk menatap wajah Tiankai karena malu. Tapi untuk kali ini saja, tidak apa-apa. Untuk saat ini, dia hanya ingin diam. Mengulang apa yang baru dia katakan tadi dan mendengarkan kembali apa yang Tiankai katakan dalam hatinya. Aneh sekali karena hal-hal yang tadi terasa sangat menakutkan terasa bisa disentuh, biarpun masih belum berbentuk; tapi dia ada. Seunghyun bisa menyentuhnya. Dia tidak perlu takut untuk meraih lagi. Lebih dari sekarang, melangkah ke apa yang dulu bahkan tidak pernah terbayangkan oleh dirinya sendiri. Aneh karena kamu bisa merasa yakin hanya dengan kata-kata orang yang paling dia percayai; dan itu sudah cukup.
Dia tahu masih banyak yang mau dia katakan. Bahwa semua masih butuh perjuangan lebih banyak. Bahwa masih ada banyak hal yang harus mereka urusi. Bahwa ini baru sebuah mula. Bahkan di kepalanya sendiri kata hal itu masih asing, dan tentu saja pemuda itu masih belum benar-benar tahu apa yang menunggu, apa yang harus dia lakukan dan segalanya; tapi kali ini juga dia belum pernah merasa begitu yakin. Ada banyak yang ingin dia katakan; tentang apa dan bagaimana, beragam hal kecil, mengejar apa yang mereka lewatkan kemarin, membicarakan apa yang akan berubah.
Tidak apa-apa. Kali ini, dia punya kekuatan lagi. Dia bisa memikirkan lagi esok hari. Untuk saat ini, dia hanya ingin diam dan memastikan. Lengan yang merangkumnya dalam pelukan dan mata yang menatapnya sambil tersenyum, menahannya agar masih ada di sana. Rasanya baru tadi dia merasa tidak yakin, kebingungan dengan apa yang harus dikatakan dan ragu harus berbuat apa. Hanya dengan sebuah jawaban dan kini dia merasa dia bisa melakukan apa saja. Sentuhan di antara helai rambutnya dan jemari yang kemudian menyentuh pipinya dan keningnya. Jawaban yang diulang dan senyum yang muncul setelahnya.
Mungkin sejak awal, dia memang tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa karena itu saja sudah cukup. Mungkin sejak awal segala kekhawatirannya adalah hal yang sekarang terasa semudah ini.
"Sekarang aku bisa bilang," dia berkata, wajahnya tersenyum. Suaranya masih gemetar dan ujung-ujung jarinya masih dingin, namun kali ini merangkum wajah Tiankai dengan mantap, jemarinya menghapus sisa-sisa air mata yang menetes di wajahnya. Siapa yang peduli kalau mereka berdua menangis sekarang? Kali ini, wajahnya menampakkan kelegaan luar biasa; pemuda itu tertawa kecil, memandang gadis itu sesaat sebelum mendekat dan mencium bagian atas hidung Tiankai; bergumam perlahan. "Aku mencintaimu."
Tidak apa-apa. Biarpun nanti akan ada yang berubah lagi, tidak masalah. Ada yang mau menggenggam tangannya. Seunghyun memejamkan mata. Dia membayangkan tentang mereka berdua yang berpegangan tangan lagi, di tempat yang mereka kenal berdua, bersama-sama.
Dan itu sudah cukup.
timeline: well-past midnight in late January 2020.
FONG TIANKAI
Antingnya dilepaskan saat Metro melewati stasiun South Shaanxi.
Itu keputusan yang cepat dan ia meraih ke telinganya, dengan hati-hati menarik keluar anting murah dari Hongdae, menyimpannya hati-hati bersama dengan kosmetiknya yang lain. Napasnya dihela dan dia seharusnya memilih rute yang lebih panjang, barangkali memutar lewat Changshu dulu sebelum kembali ke Nanjing, tetapi ia ingat ini nyaris pukul 12 dan Metro tidak tersedia dua puluh empat jam. Kereta yang akan ia tumpangi seluruhnya adalah kereta terakhir; tergesa, tergesa, kalau ia tidak mau menaiki taksi pulang dan tidak pula berjalan kaki. Napasnya dihela. Kepalanya pening.
Dia tidak ingin kembali ke apartemen. Dia ingin membiarkannya saja, membiarkannya menunggu, sementara dia bisa mengungsi ke rumah Lifen atau siapa pun yang mau menampung. Ini malam Minggu dan semua orang terjaga, bukan? Dia punya banyak pelarian. Opsinya tidak terbatas. Gemuruh di dadanya itu bisa diredakan kapan saja. Di ponselnya masih ada daftar panggilan dan ia ingin menghapusnya, membersihkannya, tetapi melihat nomornya saja ia sudah tidak bisa.
Atau lebih baik turun satu stasiun lebih awal dan tidak usah melanjutkan, agar ia tidak usah pulang sekalian. Ia bisa berjalan kaki ke tempat yang lain. Ia bisa mengulur waktu sedikit lebih lama. Ia tidak ingin mendengar pengumuman bahwa kini Metro berhenti di Huangpi, dua perhentian lagi, dan dadanya kembali nyeri. Kepalanya bersandar pada jendela yang kini melewati deret-deret neon iklan terowongan. Kabut di kepalanya kembali lagi.
Dia tidak siap mendengar suara itu. Kalau saja dia mengacuhkannya, barangkali teleponnya tidak akan berdering lagi. Barangkali dia tidak usah diingatkan akan rasa sakitnya lagi. Liburan, katanya. Mendadak bilang bahwa besok pulang. Bull. Dia tidak mau menerima omong kosong. Pulang dari perayaan peran baru Jiayi dan mendadak dia harus menghadapi yang lain. Dia tidak menyangka, tidak berharap, karena ini sudah lewat lima bulan dan satu-satunya yang ia harapkan adalah agar kenangannya hilang sekalian. Belum ada yang ia bereskan, sedikit pun, dari dirinya. Ia tidak ingin jatuh lagi. Setengah tidak percaya karena lima bulan lalu dia dihadapkan kepada realita yang mendorongnya dari tebing.
Matanya panas dan ada rasa nyeri saat ia melangkah memasuki lift dan menekan angka 17. Detak jantungnya keras. Dia tidak bisa berpikir. Dia tidak tahu apa yang tengah ia rasakan. Kesadarannya hanya berputar pada hal yang mudah: ia tidak mau bertemu, tidak siap bertemu, tidak akan siap sampai entah kapan. Betapa dia ingat segalanya di kala tiga kata muncul menyapa. Ia ingin mengumpat. Bel berbunyi dan lift berhenti.
Tidak bisa dipercaya, aku betul-betul tidak mengerti kamu. Itu yang ingin ia lepeh. Itu yang ingin ia katakan. Itu yang tertahan di tenggorokan saat ia melihat satu sosok di tengah koridornya, bersandar di dinding, tepat di depan pintunya. Dia masih menunggu. Tiankai mendekat dan tidak melihat wajahnya; badannya diputar langsung agar ia bisa menekan kode masuk. Jantungnya semakin berdegup keras. Dia tidak mau melihatnya. Segalanya akan kembali dan hari ini sungguh tidak menjamin apa pun yang akan terjadi.
Ia melangkah masuk dan membiarkan pintunya ditutup sendiri. Kunci di atas meja, mantel di kursi, napas dibuang. Lampunya tidak dinyalakan. Biar saja. Biar dia tidak usah melihat wajahnya. Dia tidak mengatakan apa-apa.
JAE SEUNGHYUN
Seunghyun tidak begitu ingat apa yang dia katakan sampai terdengar suara orang yang memutuskan sambungan telepon. Butuh beberapa saat sampai dia bisa mengambil kesimpulan apa yang harus dilakukan: tidak ada janji, tidak ada kepastian apa yang akan dia lakukan setelah itu. Seunghyun tidak berpikir kalau kehadirannya akan ditolak atau apa.
Baru sampai di gedung apartemen itu dia terpikir: bagaimana kalau Tiankai tidak datang, bagaimana kalau pada akhirnya dia tidak akan bertemu dengan siapa pun. Lalu ia berpikir seharusnya dia merencanakan ini sejak kemarin, atau lebih awal, karena sekarang terlalu rapat dengan waktunya pulang ke Seoul; penerbangannya besok malam, namun pikirannya kembali lagi -- memangnya apa yang akan dia lakukan? Dia bahkan datang hanya karena ingin. Di dalam kepalanya, itu cukup.
Kalau sudah begini, memangnya bagaimana. Setelah bertemu, lalu apa?
Lelaki itu menahan pintu. Masuk ke dalam dan mengikuti. Tidak ada cahaya kecuali dari jalanan--lampu perkotaan yang menembus gorden di beranda. Seunghyun menghela napas. Tak nampak inisiatif apa pun dari pemilik rumah selain untuk membukakan pintu. Tanpa meminta izin lebih dahulu, pemuda itu berjalan ke dekat dinding, mencari stop kontak lampu. Seingatnya ada di situ. Satu lampu menyala. Kegelapan membuat dirinya merasa tidak aman berada di tempat yang tidak dia kenali.
Biarpun sebenarnya tempat itu tidak terlalu asing, namun saat ini, terasa seperti tempat baru. Satu tahun sejak dia kemari. Hampir setengah tahun sejak dia menghentikan komunikasi. Sosok yang berdiri di tengah ruangan itu asing, meskipun nyaris tidak ada yang berubah. Setidaknya, ia ingin meyakinkan diri dengan begitu. Setidaknya, ia ingin memberikan kepastian diri sendiri agar tubuh dan pikirannya bisa lebih tenang. Tangannya masuk ke dalam saku jaket.
"Mama titip salam," malah itu yang dia katakan, berdiri kaku bersandar di dinding dekat tempatnya barusan menyalakan lampu. "Yang lainnya juga. Kemarin aku ketemu dengan Hyeyeong-noona, Rayoung-noona dan Riyoung-noona. Mereka menanyakanmu."
(Kenyataannya, semua seudah berubah, segalanya, yang melingkup di ruang tak kasat mata.)
Mereka berdiri berjarak, Seunghyun masih melihat sosoknya, namun rasanya begitu jauh. Seandainya ini bukan sekarang melainkan tahun-tahun kemarin, akan mudah baginya untuk mendekat, meraih, apa pun kecuali hanya sekadar berdiri bersandar dinding tanpa melakukan apa-apa. Pandangannya jatuh pada sofa, meja, dan dinding. Rambut pendek, bahu kecil dan wajah yang tidak bisa ia baca. Tidak begitu banyak yang berubah, dan untuk itu, tatapan matanya berangsur-angsur lega. Setidaknya sedikit yang bisa dia kenali.
Katakan sesuatu. Seharusnya, dia bisa lebih tenang dan mengatur apa yang akan dia katakan, semuanya. Tapi tidak bisa. Seunghyun tidak dapat mendefinisikan apa pun. Bibirnya sendiri seperti dikunci rapat; entah karena dingin, entah karena lainnya. Dulu, dulu, kepalanya terus menerus mengatakan penanda waktu. Dulu dia bisa mengatakan lebih banyak hal dari ini. Seunghyun menelan ludah. Tangannya mengepal. Dingin.
"Terima kasih karena boleh masuk."
FONG TIANKAI
Otaknya kosong dan ia tak tahu apa yang harus dibicarakan. Ruangan yang gelap berangsur-angsur menjadi terang dan Tiankai menelan ludah. Dia menyalakan lampu seolah berada di rumah sendiri, dan ia bimbang antara harus mengaitkan alis atau diam saja. Enggan, badannya berbalik untuk menangkap sosok yang membuatnya ingin segera kabur, menjauh, tidak mau dihadapinya sekarang. Dulu begitu mudah. Dulu semuanya dia rindukan, hingga detil yang terkecil. Hebat bagaimana perasaan bisa berubah. Dia berharap hatinya mati rasa, hingga tak usah sakit lagi. Degupannya masih ada.
Seunghyun tampak sama. Kini pemuda itu bersandar di dinding dan rambutnya sedikit lebih panjang, tubuh yang tegap, mengenakan jaket tebal. Penghangat ruangan ini belum ia nyalakan. Januari masih memiliki musim dingin di segala sisi, namun mantelnya telah ia lepas, karena dengan atau tanpanya, sekujur tubuhnya tetap terasa dingin. Mata Seunghyun ditatapnya dan ia tidak tahu harus mengatakan apa, merespons apa. Rasanya aneh kehilangan kata-kata di depan seseorang yang mengenalmu lebih dari siapa pun. Rasanya kaku. Seolah mereka baru bertemu hari ini dan kini masih tidak tahu apa kesukaan masing-masing.
Kata-kata hanya masuk dan keluar telinga, bahkan ia tidak mengatakan apa-apa setelahnya. Perlahan ia hanya merendahkan badan, duduk di armrest sofa ruang tengah. Tangannya gemetar. Napasnya dihela dan kepalanya ditelengkan, mata tak lagi memandang seberang ruangan, dan ia berusaha menghitung agar stabil, stabil, bicara sesuatu, jangan jatuh. Keberadaan Seunghyun di ruangan ini terasa canggung. Sudah lima bulan tanpa kontak dan mendadak satu panggilan telepon mengundangnya berada di dalam apartemennya. Sesungguhnya ia tak ingin kemari. Sesungguhnya, menurutnya lebih baik mereka bicara di luar, di tempat yang sepi, karena tempat ini berarti akan menyisakan jejak Seunghyun lagi.
Apabila besok datang dan pergi tanpa perubahan, segala yang terjadi hari ini hanya akan memperburuk. Lebih baik jangan nodai sekalian, agar ia tidak usah berberes lagi. Biarkan tempat ini bersih dari kenangan, agar ia bisa bernapas lebih lega. Jarak mereka jauh dan mereka tidak saling bertatapan, namun itu sudah cukup untuk membuat napasnya tercekat.
Dia berusaha agar suaranya tidak gemetar.
“Itu saja?”
Terdengar terlalu keras. Seharusnya kini ia bangkit untuk menyalakan penghangat. Tangannya tak bergerak di atas kulit sofa, jemarinya belum kuat benar untuk dikepal.
“Kamu mau bicara apa, sampai-sampai harus ke apartemenku segala?”
Kalau tidak ada, lebih baik pulang saja.
JAE SEUNGHYUN
"Mana mungkin begitu, kan. Aku pikir aku bisa berkunjung. Mengunjungi teman SMA. Teman lama. Yang dulu kemana-mana bersama. Bukannya aneh kalau tidak mau ketemu?" sudut bibirnya ditarik, membentuk senyum tipis. Ditatapnya perempuan itu lekat-lekat; mencoba mencari mana yang salah. Semuanya. Wajah yang pias dan pandangan yang tidak mengarah padanya, jemari yang bersentuhan kaku dan mulutnya yang terkunci.
Keberadaannya tidak membuat keadaan lebih baik, jelas. Ruangan yang sebenarnya lapang terasa pengap. Seperti membuat kata-kata yang hendak keluar hilang ditelan angin. Tiankai masih tidak membuka pertahanan. Langkahnya diambil, mendekat, satu langkah, dua langkah. Berhenti di tengah-tengah, lantai yang terasa dingin di kakinya. Kalimat itu tidak bisa terdengar normal bahkan oleh telinganya sendiri. Memang semua terdengar mudah seandainya mereka hanya teman lama. Bisa reuni sambil tertawa, seperti yang kemarin dia lakukan bersama Hyeyeong dan yang lainnya.
Sekarang, Seunghyun tidak bisa lagi. Seperti kedatangannya yang impulsif dan mendadak, seperti kepalanya yang sekarang berisi begitu banyak hal namun pada akhirnya yang keluar terbata-bata. Semua pikirannya soal seharusnya kita tidak begini dan beragam alternatif seharusnya buyar begitu melihat gadis itu lagi di hadapannya.
"Maunya bilang begitu. Tapi aku nggak bisa." Suaranya lirih, dan sekarang nyaris habis. Dia ingin bilang yang lain semacam dia mengerti dan dia tahu pasti mengapa seharusnya dia tidak datang, mengapa dia tidak boleh berada di sini, atau bahwa dia seharusnya pulang sekarang, dia tahu jelas sebelum gadis itu membuka mulut; tapi dia tidak mau, dan malah mengatakan hal lain.
Hening lagi.
Dia ingin ada di sini dan itu saja. Bibirnya digigit dan Seunghyun mengutuk hening yang mengungkung, pada cuaca dingin yang meliputi. Karena memang dia yang datang dan secara tidak langsung mengatakan kalau ada keperluan, sudah tentu dia yang harus melanjutkan pembicaraan. Pada akhirnya, tingkah laku yang dia pikir sudah dilakukan dengan banyak-banyak pemikiran, buyar lagi oleh tindakannya sendiri. Pada akhirnya, lagi-lagi dia berpikir, tidak apa-apa, karena dia pikir Tiankai akan menerimanya. Dia tahu dia kurangajar, tapi dia tidak mau berhenti saat ini saja.
Dulu, dia pernah bersumpah setidaknya pada dirinya sendiri. Kalau melihat Tiankai marah atau sedih, maka dia yang akan lebih marah, yang mau dia lihat adalah gadis itu yang tersenyum, tertawa, semua yang membuatnya bahagia. Kali ini, dia dihadapkan oleh keadaan seperti ini. Kalimatnya meluncur dengan suara aneh dan langkah yang kembali mendekat, tidak memedulikan tembok yang tak terlihat, berjalan sampai Tiankai benar-benar ada di hadapannya; matanya menangkap tangan yang gemetar dan Seunghyun tidak bisa tidak meraihnya. Dingin. Kaku. Satu tangannya yang lain menyentuh, rambut yang pendek dan wajah yang sudah begitu lama dia sentuh, dan semuanya. Menariknya agar melihat wajahnya.
"Soalnya sekarang aku cuma bisa bilang aku ingin lihat kamu. Aku mau di sini sampai besok. Aku nggak peduli yang lain. Bahkan aku bisa bilang aku nggak mau pulang. Lucu, kan? Dengan semua yang aku bilang waktu itu--" Pemuda itu tertawa getir. Kalimatnya meluncur tanpa pertahanan, genggamannya menguat. Suaranya mengecil dan jadi gemetaran hebat, wajahnya kaku, matanya panas, dan Seunghyun berdehem keras.
"Tiankai. Aku--aku nggak tahu aku bicara apa. Tapi aku sudah mencoba memikirkan alasan yang lebih baik. Sumpah."
Makanya, apabila gadis itu marah pun, tidak apa-apa.
Payah.
FONG TIANKAI
Dia tidak bisa bernapas.
Seolah ia hanya ingin menutup telinga, tidak usah dengar apa pun yang pemuda itu katakan, karena terakhir kali ia melakukannya, ia diberikan kekuatan untuk berdiri sendiri; kemudian semuanya runtuh. Tidak usah didengar karena tidak ada yang bilang kali ini akan aman, seolah semua yang melewati hanyalah kebohongan, dan ada satu bagian kecil di dasar hatinya yang bilang bahwa ia percaya dan akan selalu percaya, namun semuanya tertimbun gelap dan diam. Diam. Semuanya diam. Tiankai memejamkan mata dan perihnya merayap naik, ke rongga dada, ke tenggorokan.
Seperti sarkasme yang menusuk, sesuatu yang sudah pasti tidak mampu teraih, dan kini ia hanya menjadi orang yang skeptis. Segalanya sudah berjalan terlalu jauh untuk diputar kembali dan dia harap dia tidak sedang berada di sini mendengar semua ini, dia harap dia sedang berada di tempat lain, masih di Hengshan, di Huangpu, di kantor dan tenggelam dalam semua naskah, di tengah jalanan dini hari luar sana, di mana pun yang penting bukan di sini. Tidak mendengar langkah kaki yang mendekat, telapak bertemu lantai kayu yang dingin, suara yang memecah keheningan seperti petir. Dia tidak ingin.
Dia tidak ingin melihat Seunghyun yang tadinya diterangi cahaya lorong depannya; fitur yang ia kenali, alis, mata, hidung, bibir, semuanya sama. Kini mendekat, dan sekujur tubuhnya tidak bisa bergerak, dia masih tidak bisa bernapas dan rasanya sesak. Dia benci bagaimana lima bulan lewat sudah tetapi dia masih tidak bisa berpikir mengenai pemuda itu; dia kira sudah lewat. Fasenya selesai. Hari-hari lewat seperti angin dan dia cepat melupakan. Sudah cukup lama, bukan?
Dia mencari suara lain, alarm mobil yang berbunyi mendadak di luar, klakson bersahutan, detik jarum jam, bunyi getaran dari kulkas atau tetes air di bak cuci. Hal-hal yang biasanya mudah terdengar kalau ia sedang sadar betapa ia begitu sendiri. Hal-hal yang tadinya mudah tertangkap sewaktu apartemen ini hanya berisi dia dan dia merindukan seberang lautan, merindukan yang berdiri tepat di hadapannya, hangat tubuhnya, suaranya, hanya sejangkauan tangan.
Seunghyun ada tepat di hadapannya dan kata-katanya tidak bisa dipercaya. Saat jemari meraih tangannya dan menyentuh puncak kepalanya, turun ke pipinya, mengangkat dagunya, betapa herannya ia tidak bisa melawan, karena ia masih begitu rindu. Keterlaluan. Ia menatap Seunghyun dengan air mata yang menetes. Ini tidak adil karena dia bisa kemari dan bilang begitu, ketika berbulan-bulan yang lalu dia menghancurkan hatinya dan seluruh hal yang mereka punya hanya dengan satu panggilan telepon. Menetes lagi, dan lagi, dan matanya berkaca-kaca saat ia menatap Seunghyun sengit, dan ia mengumpulkan tenaga untuk menarik tangannya dan berdiri.
“Kamu cuma bisa ngomong,” kata-katanya keluar terlalu bergetar, suaranya pecah, dan ia bergerak menjauh. Ia tidak ingin melihat wajahnya, ia ingin menghadap ke titik-titik lampu di luar gorden, tetapi ia berbalik dan mengatur napas. Dadanya sakit.
“Kamu belum mencoba. Kalau kamu memang mencoba,” mendadak berkata-kata menjadi begitu susah. Ia menekap mulut dengan tangannya. “kalau kamu memang mencoba, kita bisa lebih baik dari sekarang,” sakit. Sakitsakitsakit. “Kamu nggak perlu membuatku merasa begini. Melihatmu saja rasanya sakit.”
Segala di sekeliling mereka gelap dan dunia seperti runtuh lagi, perlahan, di hadapan.
“Kamu membuatku percaya waktu itu. Kamu tahu itu, kan?”
JAE SEUNGHYUN
Untuk semua pernyataan itu, dia hanya bisa menjawab satu kata.
"Iya."
Aneh karena semua yang dulunya sederhana jadi rumit. Tangannya ditepis dan gadis itu berbalik; Seunghyun pada akhirnya diam, memperhatikan. Mengambil tempat yang sebelumnya dijadikan tempat gadis itu duduk. Seandainya semua mudah. Seandainya saja dia tidak membuangnya--namun Seunghyun tidak mau memikirkan itu, karena memikirkannya membuat kepalanya jadi sakit dan membuatnya ingat lagi kalau yang menyakiti gadis itu adalah dia dia dan dia sendiri. Ke mana, kamu mau menyalahkan siapa?
Karena itu juga Seunghyun tidak bisa menyediakan alasan yang lebih baik, karena dia sudah tahu sejak awal: tidak akan ada gunanya. Dia memikirkan apa yang lebih baik dikatakan, namun pada akhirnya sama. Hal yang dia inginkan adalah sesederhana itu; sesederhana datang dan kembali merasakan bahwa dia memilikinya, apa yang hilang dan dapat kembali ia pegang; memperbaiki yang kemarin. Tapi yang dia rusak bukan barang atau sesuatu yang dapat dibeli suku cadangnya, dan kini ia kembali berhadapan pada situasi di mana dia tidak suka dan tidak mau melihat Tiankai jadi seperti itu, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Setelah dipikir.... dari dulu selalu begitu, ya?" Seunghyun menatap sekeliling, membiarkan Tiankai tanpa menghampiri, biarpun telinganya mendengar nafas yang tersengal dan kata-kata yang tercekat, suara yang tertahan seperti sesuatu yang akan melompat keluar. Matanya kembali menatap ke arah lain, karena dia tidak mau melihat yang semacam itu kalau dia tidak bisa, dia tidak boleh mendekat. "Pada akhirnya, yang sakit selalu kamu."
Seunghyun pikir dia sudah lebih dewasa, namun dia kembali mengulanginya lagi. Seunghyun teringat dulu, ketika ia panik dan berkata jangan menangis, jangan menangis untuk segala hal yang dia takutkan akan terjadi, dan semua akan jadi baik-baik saja. Kali ini dia bahkan tidak bisa mengatakan hal itu lagi, membiarkan gadis itu di sana dan rasa nyeri merayap di leher sampai dada. Di atas meja ada kunci, beberapa langkah dari sana ada pintu dan Seunghyun mulai berpikir kalau seharusnya dia keluar karena tak mau gadis itu sesulit itu melihatnya--sekacau itu menatapnya, dengan mata yang berkaca-kaca dan semuanya.
Atau sebenarnya dia yang sulit menerima bahwa semua itu karena kehadirannya saja? Entah, pemuda itu tidak bisa mengira-ngira. Semua lebur jadi satu titik di mana yang ada tinggal rasa sakit.
"Bahkan setelah tahu itu, aku juga masih ingin jadi keras kepala." Matanya memindai ruangan, lantai kayu, jendela yang tertutup, dan benda-benda yang membisu, bibirnya melewatkan lagi tawa getir. Ia ingin berjalan lagi, mendekat, meraihnya, namun tepisan sebelumnya membuat dia tidak kuasa dan tidak bisa. Bahkan ketika sekarang, ketika mereka tidak terpisah apa-apa selain udara dan jarak beberapa langkah; ketika Seunghyun tidak dapat menyentuhnya, yang ada adalah rasa nyeri luar biasa. Seperti ada yang memukul dadanya kuat-kuat dan menyuruhnya untuk tidak bicara. "Waktu itu juga aku pikir yang salah kamu."
Meskipun begitu, dia kumpulkan juga energi untuk berkata-kata. Pemuda itu berusaha membenarkan suaranya yang sudah kadung berantakan, terjeda karena untuk setiap kata jadinya lebih sulit untuk dikatakan; ia tidak bisa memilih kata-kata yang tepat.
"Tadinya kupikir kalau lupa, lama-lama lelahnya akan hilang."
FONG TIANKAI
Waktu itu datang semudah mengingat hari kemarin, apabila dia mau mengilas balik. Dia kira dia sudah lupa. Dia kira dia melakukan apa yang harus ia lakukan; berjalan lagi, berdiri lagi, mencoba memulai dari awal. Lagipula, negara ini tidak pergi darinya, kota ini selalu merupakan bagian dari dirinya, dan memang tidak sulit untuk kembali ke rutinitas yang dulu. Hanya membutuhkan kehadiran satu orang untuk menjungkirbalikkan semuanya dan kembali menyeretnya ke tahap di mana ia tidak mampu bergerak, di mana ia tidak bisa melakukan apa-apa. Seolah otaknya bekerja hanya untuk berpikir apa yang dikatakan, apa yang dilakukan. Tiankai memiliki kesulitan membagi hatinya menjadi dua, satu asal, satu cinta pertama. Dia tidak tahu mana yang ingin ia lepaskan.
Matanya menangkap titik lampu gedung-gedung di luar jendela. Gordennya semi-transparan dan yang ada hanyalah gelap meliputi ruangan, dan ketika ia tidak dapat melihat apa-apa, suara Seunghyun terdengar semakin jelas. Satu jam yang lalu ia hanyalah suara di telepon. Lima bulan yang lalu ia sudah tidak tahu seperti apa rupanya. Dia bisa berbalik dan mengamatinya kalau dia mau; dia bisa menunjukkan mana yang berubah, mana yang tidak. Kakinya seolah tertanam di lantai dan dia memejamkan mata lagi, mengatur napas, mendengarkan kata-kata yang menyelam masuk dan keluar pendengarannya. Pundaknya masih bergetar. Jemarinya dingin. Suara Seunghyun lirih dan jedanya pelan, tuturnya tidak semakin keras.
Tiankai bisa menghitung hari-hari di mana dia ingin mati. Ada kalanya dia akan keluar dari apartemen yang pengap dan menahan tangis, berjalan melewati udara Shanghai yang kelewat dingin. Dia bisa menyebutkan hari di mana dia merasa paling putus asa, di mana ada bagian dari kepalanya yang ingin ia tarik keluar namun tidak bisa, bagian hatinya yang paling dasar. Dia tidak ingin hidup mengingat-ngingat itu semua. Dia tidak ingin diingatkan, dia tidak mau tahu---Seunghyun hanya ada beberapa langkah di belakangnya, dekat sekali, dan dia masih tidak bisa melihatnya.
Dari dulu mereka berdua keras kepala. Apabila kamu mengadu batu dengan batu, maka keduanya akan pecah. Dari dulu mereka meledak apabila dipaksa. Menjelang kepergiannya, segalanya ditahan, dan barangkali itu juga yang menjadi sumbunya. Hal-hal yang Seunghyun katakan begitu sulit ia cerna karena hatinya masih meluap dan seluruh kepalanya juga, dan apabila ia ingin bicara tentang penyesalan, maka Tiankai tidak bisa meladeninya. Pening. Berapa dalamnya napas yang ia tarik, ia akan selalu ingin berteriak lebih keras. Ia menahan isakan.
“Bagaimana kalau sekarang?”
Suaranya pelan dan lelah. Perlahan ia menoleh, menangkap sosok yang duduk di sofa. Ia mengucapkannya satu-satu, tidak punya tenaga untuk menyentak apalagi berteriak. Tubuhnya berbalik dan ia menjeda lama, menangkap seraut wajah di tengah kegelapan. Apakah ia masih serindu itu?
“Karena kamu sudah tahu semua yang tadi. Kamu sudah bilang barusan,” dia tidak mau dengar. Degup jantungnya memelan. “Kamu sekarang capek?” satu, dua, tiga. Merasa begini, berpikir begini, menunggunya begini. Langkahnya mendekat dan ia mengukur jarak di antara mereka berdua. Hanya berkurang sedikit. Dia berhati-hati.
“Jawab aku,” pelan. Kecil. Dia memutuskan untuk melangkah sedikit lagi dan perlahan duduk, dengan jarak cukup agar suaranya bisa terdengar. “Kamu datang kemari jauh-jauh. Apa yang sesungguhnya kamu mau?”
Dia tidak meminta jawaban yang tadi karena dia merasa demikian, sama saja, setiap jam dalam setiap hari.
“Apa yang sejujurnya kamu inginkan, Seunghyun?”
Dia mencari sebuah jalan.
JAE SEUNGHYUN
Semua tidak akan sama lagi.
Betapa pun dia berpegangan ke waktu-waktu yang pernah mereka lewati, namun semua tidak akan sama lagi. Ada jeda, ada banyak hal yang berubah selama mereka tidak bertemu. Seunghyun pikir dia tidak harus memasukkan Tiankai ke dalamnya selama perubahan hidupnya terus terjadi. Atau paling tidak melihat gadis itu dalam perspektif yang lain. Bahwa nanti pikirannya akan lebih lapang. Sebagian dari itu adalah benar: hal-hal yang selama ini dia lewati, fokus kepada diri sendiri tanpa ada interupsi.
Pada akhirnya hanya satu saja yang dia mau.
Pertanyaan Tiankai terdengar untuknya seperti sebuah pertanyaan retoris, yang membuat Seunghyun ragu apakah ia harus menjawabnya atau tidak. Dia kira dia sudah menyampaikan kata-katanya dengan jelas. Napasnya kembali diatur dan Seunghyun menghela napas panjang. Nyaris satu tahun tidak bertemu langsung dia kira sudah cukup lama, dan dia kira dia bisa lebih tenang menghadapi. Namun nyatanya sekarang kepalanya sulit berpikir jernih tatkala bertemu langsung.
Malam menandak dan sekarang sudah masuk ke dini hari. Seunghyun menghitung berapa jam lagi sampai ke penerbangannya malam nanti, namun pikiran itu menghilang dengan cepat. Ia tidak lagi mempedulikan waktu, cahaya lampu-lampu yang membayang di dinding, ataupun suara-suara kendaraan di luar. Matanya menatap lantai namun pandangannya bergerak mengikuti. Ke langkah kaki yang mendekat. Ke tubuh yang menghempas di sebelahnya, dan Seunghyun tidak menoleh. Suara gadis itu letih dan perlahan, dan Seunghyun mendapati dirinya diam.
"Sekarang aku nggak capek." Kepalanya tertunduk dan matanya menyusuri jemarinya sendiri yang terangkum di atas pangkuan, dari jari kelingking kiri ke jari kelingking kanan. Mengamati. Dia tidak bisa mengatakan hal-hal panjang, dan sekarang pun begitu; semua isi kepalanya hanya bisa ia jelaskan paling baik lewat ungkapan yang paling simpel. Pandangannya beralih pada Tiankai. Dekat lagi, di sebelahnya. "Tapi ada banyak hal yang kupikirkan."
Aku tidak mau kita begini. Jawaban pertanyaan Tiankai teredam dalam kepala. Seunghyun tidak bisa berpikir apa yang harus dia lakukan dan apa yang bisa ia lakukan untuk menjelaskan dengan lebih baik. Pikirannya bergerak cepat dan sederhana, dengan kosa kata yang seadanya. Dia tidak punya rencana. Kepalanya mengatakan keraguan yang mungkin persis sama dengan lawan bicaranya--Seunghyun bukannya tidak menangkap keraguan, tanda tanya, dan bahkan wajah tidak percaya. Jawabannya tenggelam dalam rasa bimbang.
Pada akhirnya, memang pasti ada yang berubah. Semuanya. Ia tidak bisa berpegang pada dua tiga empat tujuh tahun lalu di kala semuanya masih baik-baik saja dan mereka tidak memandang apa pun sebagai kesulitan. Pada saat ketika mereka tidak tahu medan apa yang dihadapi dan berkata kalau mereka bisa. Tapi tetap saja sekarang dia berada di sini. Berpegang pada entah apa. Mungkin keegoisan. Mungkin kekeraskepalaan. Mungkin juga satu-satunya taruhan, atau mungkin bahwa gadis itu masih, masih ingin ia masukkan dalam kehidupannya. Biarpun satu benang. Masih lebih baik daripada tidak sama sekali.
"Aku nggak mau kita begini. Atau melihat kamu begini." Matanya masih menatap. Ketika melihatnya seperti ini, pemuda itu tidak bisa serta-merta menghampiri. Sentuhannya pelan-pelan dan hati-hati. Bagaimana pun dia takut menyakiti. Biarpun begitu, dalam kepalanya, ia ingin menyakini bahwa masih tersisa bagian dari dirinya yang bisa jadi penenang. Lengannya terulur menyentuh rambut Tiankai lagi; ke helai-helai yang menghalangi dahi, ke pelipis dan telinga kiri. Kosong. Dia tak dapat membaca ekspresi gadis itu dan dia menemukan diri bertanya.
"Kai. Kamu benci aku?"
Karena datang. Karena merangsek masuk. Karena seenaknya. Karena keluar masuk sesukanya. Karena semuanya. Matanya mengamati mata yang merah dan jejak-jejak sembap. Tatapan pemuda itu jadi sayu. Tidak. Dia tidak datang untuk begini. Dia tidak datang untuk membuat gadis itu menangis lagi. Karena itu, bila memang gadis itu benci, mungkin pada akhirnya memang dia harus menyudahi. Dadanya sakit lagi.
FONG TIANKAI
Pandangan mereka bertemu dan Tiankai tidak berkedip, berusaha menghitung jeda dan berapa lama sampai jantungnya berhenti berdegup takut, napasnya berhenti bergetar, sampai dia menemukan kembali tatapan yang ia kenal. Nyatanya Seunghyun tidak pernah menjadi orang asing. Dia tidak pernah menjauhkannya dari hatinya. Dia tidak pernah merencanakan apa yang terjadi apabila jarak lima bulan kemarin merentang, merentang jauh hingga belasan tahun dan mereka harus bertemu di saat itu. Mereka tak akan pernah menjadi teman lagi. Dia tidak bisa memberi nama apa-apa lagi. Apa yang tercipta memberikannya sebuah ketakutan, keraguan, karena dia tidak akan pernah bisa membayangkan mereka jadi seperti apa. Momen ini pun, ketika segala bagaimana kalau... terpecah membentuk ratusan pertanyaan dan perkiraan dan dia bisa merasakan semua kebimbangan mereka melebur jadi satu; dia masih merasa takut.
Wajah Seunghyun terliput gelap. Hanya ada sedikit cahaya, sedikit, dari jingganya lampu di depan dan samar-samar dari jendela bertutup gorden. Dia ada di sana, hanya sejarak kecil, tidak lagi jauh dan tak tergapai sejauh apa pun tangannya mengulur. Dia di sini, dia yang datang dengan kata-kata yang seharusnya dia ucapkan sejak lama. Tiankai bisa menyentuhnya kalau ia mau. Ia bisa bangkit dan meraih dan menanyakan semua hal yang ingin dia tanya, terus, sampai matahari terbit, sampai saatnya dia pulang lagi. Dia bisa melakukannya. Di sini mereka tidak berbatas zona waktu, tidak berbatas lautan, dan dindingnya pecah.
Dia masih merasakan hal yang sama, sesulit apa pun dia mencoba lupa. Aneh rasanya kalau kau pulang dengan meninggalkan hatimu di sebuah kota yang tadinya tidak kau kenal sama sekali. Seunghyun membawanya kembali. Ia menggenggamnya di tangannya dan kini pemuda itu meraih, menyentuh rambut dan wajahnya, dan kali ini ia tidak mundur lagi. Sentuhan itu masih dikenal olehnya. Dia merindukannya. Dia merasa begitu bodoh dan lemah karena nyatanya waktu berjalan dan dia masih kembali ke tempat yang sama, bahkan setelah semua perasaan yang ia tidak mengerti dan pikiran yang menyiksa kepalanya. Matanya memandang, kemudian mengerjap.
Aku nggak mau kita begini.
Apa yang kamu mau?
Aku?
“Nggak,”
Matanya dipejamkan dan ia merasakan jemari itu hangat di pipinya. Ia rindu, rindu, sangat rindu, ia ingin jatuh lagi dan tidak usah bangkit lagi. Ia sudah terlalu dalam tergenang. Napasnya tercekat dan ia hanya menggeleng, menunduk mengumpulkan kekuatan. Ia mengangkat kepala, mencari pandangan itu. Tidak pernah. Selalu ada sebagian kecil diriku yang mencintaimu. Kamu tahu? Itu menyedihkan. Hatinya kosong dan seberapa besar dia marah, menangis, bertanya, dia kembali ke jawaban yang sama. Kamu selalu memiliki tempat di sini dan tidak bisa aku hapus. Sekarang kamu berada di mana?
Dia meraih tangan Seunghyun, menurunkannya, menggenggamnya dan meletakkannya di pangkuan. Dia masih bisa menelusur kontur yang ia kenal, kasar, selalu sedikit lebih besar. “Kupikir aku benci kamu. Kupikir aku bisa lupa, yang kemarin,” aku juga nggak mau kita begini terus, “tapi sekarang, aku...” dia menggeleng, dan suaranya masih pelan. Rasanya seperti memukul udara kosong, mencari sesuatu yang tidak ada. Mimpi indah tidak ada di dunia ini.
Tatapannya naik dan lurus. Dindingnya ia buka seluruhnya. Diberinya jeda lama. Hanya ada dia dan Seunghyun, ia bisa mendengar napasnya, merasakan hangat tubuhnya.
“Seunghyun, kamu cinta aku?”
Diberinya jeda.
“Kamu akan berjuang untukku?”
Karena kemarin kamu menjauhkanku. Kamu sendiri yang membuatku ragu. Karena aku tidak yakin kita bisa melakukannya, sekarang aku juga tidak tahu kita harus apa.
JAE SEUNGHYUN
Ada yang mencelos ketika Tiankai menanyakan itu padanya; dengan kalimat yang tergantung dan mata yang lemah. Seunghyun ingat dulu menjawab pertanyaan semacam itu adalah hal yang jauh lebih mudah, dengan perasaan yang berbeda. Karena dulu Kali ini, dia bahkan tidak bisa menjawab 'iya'. Pada pertanyaan yang dulu bisa ia jawab sesukanya, kali ini dia terdiam, lama, sesak menjalar sampai ke tenggorokan. Dengan pertanyaan itu, dia dipaksa berpikir.
Ada di mana mereka sekarang? Akan mudah untuk bilang lagi aku tidak peduli yang lain, pokoknya aku hanya ingin di sini saja. Meraih tubuhnya dalam pelukan dan mendapatkan kembali apa yang kemarin terlewat dan terjangkau, yang terlampau takut untuk dia sentuh, pada wajah dan kehangatan yang dia rindukan setengah mati. Tapi bagaimanapun itu hanya bisa untuk 'sekarang'. Pertanyaan gadis di hadapannya, dengan genggaman di tangannya, dan Seunghyun menahan mati-matian tekanan yang muncul di lehernya dan menahannya untuk berkata-kata.
"Kalau aku bilang iya, kamu percaya?" suaranya gemetar, matanya memandang dua bola mata yang ada di hadapannya dengan tatapan bimbang. "Aku nggak bisa mengatakannya di saat aku jadi orang yang menyakiti kamu begini."
Bukan karena dia tidak mau menjawabnya. Dulu, seingatnya, ia bisa menjawabnya dengan cara apa pun yang dia mau, tanpa harus merasa sakit ataupun juga sedih; tidak sekarang, ketika semua pertanyaan itu berselimut ragu dan gadis itu bahkan harus berpegangan pada pertanyaan semacam itu, dan Seunghyun jadi mempertanyakan kehadirannya sendiri. Mendengar pertanyaan itu rasanya seperti pisau yang menusuk kepala. Bahwa dia tidak bisa memberikan gadis itu rasa aman, atau sedikit rasa percaya sehingga membuatnya mengeluarkan pertanyaan seperti itu.
Karena pertanyaan itu benar-benar pertanyaan, bukan pernyataan.
(Seingatnya, dulu, tidak serumit ini.)
"Aku ingin selalu dengan kamu. Tapi kalau dengan keadaan sekarang, mungkin akhirnya aku bakal menyakiti kamu lagi."
Bola mata Tiankai gelap dan Seunghyun tidak bisa berkaca. Yang dia tangkap hanya wajah yang lemah dan bertanya. Seunghyun ingin menggantinya; ubah semua jadi senyum dan mata yang berbinar serta bercahaya, Seunghyun ingin semua kembali jadi baik-baik saja. Dia berharap cahaya lampu yang tadi ia nyalakan tidak perlu membuat berkas sinar yang samar dan menampakkan bagian bawah mata yang merah dan semuanya.
Mungkin pada akhirnya Tiankai yang bisa dia cintai adalah yang berada dekat dengannya. Mencintai Tiankai yang ada dekat bersamanya dan selalu ada di sampingnya; yang bisa ia sentuh dan Semua tampak tidak dapat ia lihat sekarang; dulu begitu mudah. Aku begitu ingin kamu pulang, denganku di mana aku bisa menjaga kamu; betapa banyak keraguannya. Kota ini juga rumah Tiankai, dan dia tidak bisa mengambil apa yang sudah berada di tempat yang tepat. Dengan segala hal yang memang sudah menjadi rumah gadis itu sejak awal.
Biarpun begitu, dia ingin percaya--dan mendapat kepercayaannya.
"Kalau aku bilang yang aku mau kamu pulang denganku. Biarpun pasti nggak sekarang dan masih banyak yang harus kita lakukan. Kamu mau?" Pertanyaannya samar dan nadanya berbalut permohonan. Seunghyun tahu sebenarnya dia tidak berhak mengatakan ini. Tidak ketika dia adalah orang yang sudah menyakiti Tiankai berkali-kali. Tidak ketika gadis itu menanyakan hal-hal trivial dengan rasa takut yang jelas terdengar di telinganya. Mengatakan 'aku ingin kamu' terasa mudah bila itu adalah sesuatu yang temporer dan tak usah dipikirkan lagi esoknya. Menginginkan, lalu melupakan. Ketika ingin, maka ia tinggal menemuinya lagi dan besok dia bisa melupakan lagi.
Karena yang dia inginkan lebih dari itu dan saat ini dia tahu situasinya tidak semudah kemarin dan dengan begitu banyak perubahan di antara mereka, Seunghyun tidak tahu apakah dia masih bisa mendapat sedikit kepercayaan. Dia ingin meyakini kalau dia masih boleh; dengan pegangan bahwa gadis itu tidak membencinya, namun betapa takut juga pemuda itu bila dia harus menyakiti Tiankai lagi. Matanya kembali memejam, merasakan sentuhan di tangannya, jemari yang sungguh dia kenal dan membuatnya ingin melupakan yang lain.
FONG TIANKAI
Bahkan kata-katanya terdengar hambar dan mentah. Sukukata yang melekat dan kini beraksen, bercampur air mata, disendat lupa. Dia tahu. Dia mengerti semua yang Seunghyun ucapkan dan dia hanya ingin bilang dia tahu, dia mengerti mereka sedang berpijak di antara dua hal, dan mereka harus membereskannya apabila mereka hendak melangkah. Yang ia tidak tahu adalah bagaimana caranya. Dia ingin percaya. Dia ingin bisa mengiyakan dengan mudah karena dia tidak suka merasa takut. Dia tidak suka harus diyakinkan, karena dulu untuk melompat tanpa ragu terasa begitu mudah. Kini ia bimbang dan terus meragu, tak mantap, seolah tangan pemuda di pangkuannya sesungguhnya tak ada di sana.
Betapa dia kembali takut dan terlingkupi kekhawatiran; di hadapannya, harusnya, adalah penyembuhnya. Bagaimana caranya?
Yang mereka lakukan hanyalah saling bertanya. Kamu bisa? Mencari kepastian sebelum berbuat. Memastikan mereka tidak melakukan kesalahan yang sama. Tiankai hanya ingin mendengar satu jawaban yang pasti, dan barangkali kalau dia dengar itu, maka dia akan kembali percaya lagi. Mereka berdua bahkan tidak tahu bagaimana caranya melangkah lagi. Lantas bagaimana? Karena dia tahu apa yang dia inginkan, dan rasanya seperti merangkak menuju tujuan yang turut menjauh. Apa yang Seunghyun ucapkan begitu tidak pasti, dan dia merasa semakin bodoh karena masih terus percaya, bahkan kini.
Masih terus jatuh. Masih terus mencari alasan agar terus jatuh. Betapa hatinya belum sembuh betul. Selalu meminta lebih dari yang bisa ia bayar.
Jawaban untuk pertanyaan Seunghyun selalu ada di pikirannya, sudah siap bahkan sebelum ditanyakan, hal yang paling ia inginkan di dunia. Semua sebelum ia kembali dan ditelan oleh kota yang menjadi masa kecilnya. Sebelum ia dijauhkan dari negara tempat hatinya bertambat. Begitu? Dia masih menyimpan sisa-sisanya, semuanya, bertanya-tanya apakah suatu hari segalanya bisa hangat lagi. Hanya saja, kali ini bukan hanya mengenai keinginan. Ini mengenai dua orang dan karir dan keluarga dan ada terlalu banyak yang harus ia urusi apabila ia ingin kembali lagi. Dunianya diperluas dan bukan hanya Seunghyun di dalamnya, meski itulah yang ia inginkan: cukup dia saja. Tidak semudah itu.
Aku tahu.
Dia mengambil napas dan suaranya lirih. Apabila membicarakan ego, dia selalu bisa memenangkan dirinya sendiri. “Mau,” itu yang kuinginkan sejak dulu. Itu yang kukira akan terjadi. “Tapi akan butuh waktu lama, dan kamu harus menungguku sampai aku bisa kembali,” pandangannya lurus. Tidak bisa lagi lelah. Tidak bisa lagi tanpa arah. Ia berusaha terdengar tegas.
“Kalau memang aku kembali, kamu harus menjagaku agar aku nggak pergi,” karena kalau itu terjadi, ke mana lagi ia akan pulang? Apabila ia memilih dan meninggalkan yang satunya, ada banyak yang harus ia lakukan. Apabila ia diberikan jaminan, apabila ia diberi kepastian... “dan aku nggak bisa kemana-mana lagi. Kamu bisa janji padaku itu?”
“Aku juga ingin selalu bersama kamu,” dadanya sakit. Dia menghabiskan hari-harinya mengais dan mengais dan tidak hidup sama sekali, “tapi kamu harus tahu... Kita akan bagaimana seterusnya.”
Dia tidak bisa pulang apabila mereka hanya akan hidup seperti kemarin; dia akan harus memilih, dan ini bukan lagi hanya mengenai dua negara. Ada hal-hal yang lebih besar. Di dalam hatinya, dia bisa selalu menjawab ya.
JAE SEUNGHYUN
Dulu, Seunghyun pikir dia sudah mendapatkan dunia.
Karena dia merasa aman. Semua bisa ia pegang dan ia tidak perlu takut. Rentang kehidupannya aman dan menyenangkan, dan yang paling penting adalah dia merasa sudah cukup untuk bisa diandalkan. Hingga suatu saat dia diingatkan kalau dia hanya berdiri di puncak gunung es. Bahwa dia masih terlalu muda, masih terlalu banyak hal ini dan itu. Seingatnya dulu mencintai begitu mudah: berpegang hanya dengan keyakinan di dalam dada maka dia akan baik-baik saja. Sekarang, untuk mulai yakin pun dia tidak tahu harus mulai dari mana.
Dia ingin bilang kalau dia bisa. Sumpah, dia ingin. Tetapi bibirnya kaku. Tidakkah cukup kalau memang hanya ada mereka saja? Dia tidak mau memikirkan yang lain, kalau ada banyak hal sulit yang menunggu di depan dan dia takut kalau harus menjadi seperti itu lagi, di mana ia tidak tahu tempatnya berada dan kemudian melepas lagi, untuk kemudian kehilangan lagi. Lelaki itu mengalihkan pandangan ke lantai, ke jejak-jejak cahaya yang tipis dari sisi lain ruangan, ke ruangan yang asing dan pengenalnya hanya sosok gadis di hadapannya.
Tempat yang asing dan situasi yang asing, sentuhan yang ragu-ragu dan semua yang terasa tidak pasti. Semakin sakit kala kini tidak ada dinding di sekitar mereka, dan mereka tidak perlu lagi bicara dengan perantara atau teks, tetapi dia merasakan ada ruang yang tak kasat mata; ruangan yang dia buat sendiri dengan ketakutan dan kesulitannya untuk meyakini dirinya sendiri. Seakan-akan wajah yang ditatapnya bisa hilang besok, tidak kembali, dan dia tidak bisa mengejarnya lagi.
Kali ini, mereka tidak hanya bicara soal 'saat ini' saja.
Bayangan kekhawatiran muncul lagi di pelupuk mata. Dia ingat janji yang ia nyatakan dan kemudian ia langgar, serta banyak rasa sakit setelahnya. Dulu, dia tidak tahu. Setelah itu, semua terasa sangat sulit. Pada Tiankai, dia ingin bilang kalau dia bisa. Tapi saat ini dia merasa begitu kecil--ketika seharusnya dia Mereka harus mulai dari awal lagi. Seakan-akan yang kemarin hanya sesuatu yang bisa ia dapatkan tanpa usaha dibandingkan yang sekarang mereka hadapi.
Kata-kata Tiankai memasuki pendengarannya, dan matanya memandang gadis itu lama-lama. Kembali diingatkan kalau gadis itu masih mempercayainya. Selalu begitu, di kala dia bahkan tidak punya apa-apa; saat ini Seunghyun hanya punya dirinya sendiri dan tidak yang lain, kala dia tinggal separuh selongsong kosong dan gadis itu masih mau bergantung padanya yang bahkan butuh diyakinkan terlebih dahulu. Pijakannya goyah dan seperti mau runtuh.
Ia rindu genggaman tangan yang erat dan kaki yang berlari tanpa harus khawatir akan berakhir di mana. Dia ingat betapa mudah dia merasa aman. Hanya dengan memeluk dan merasakan detak jantung yang dekat dengan jantungnya sendiri, kehangatan yang ia kenali dan jemari yang menyentuh tubuhnya. Lama ia mengambil jeda, memperhatikan wajah yang sekarang menatapnya dengan saksama.
Seunghyun menelan ludah. Dia adalah orang yang seharusnya bisa bilang untuk menunggunya dan dia yang akan datang. Sekarang, Tiankai yang mengatakan hal itu padanya, memberikan kesempatan padanya, dengan suara yang tegas dan bertanya.
Entah sejak kapan dunianya terasa terlalu besar dan Seunghyun tidak bisa menggenggamnya sendiri, tidak bisa menopangnya untuk mereka berdua. Hal-hal yang sekarang terasa jauh dari realita, hal-hal yang tidak bisa disentuh oleh nalarnya. Dia selalu merasa takut dengan hal-hal semacam itu; bahwa dia akan harus membuat Tiankai berkorban lebih banyak, mengambilnya dari tempatnya berada sekarang, dan membuat gadis itu harus lepas dari rumahnya yang seharusnya. Namun berpegang dengan jawaban 'mau' dari Tiankai, membuatnya mencoba memberanikan diri.
Selama apa itu 'lama'. Apa dia boleh mengatur seberapa lama.
"Dua tahun atau tiga tahun lagi." Ia menatap Tiankai, suaranya perlahan, pandangannya tidak lepas. Genggaman tangannya pada tangan gadis itu menguat. "Ayo menikah."
Tangannya menyentuh wajah gadis itu lagi, hati-hati; wajahnya mendekat dan perlahan pada akhirnya menarik Tiankai pada pelukannya. Ia mendekap erat gadis itu dan tubuhnya sendiri berguncang; wajahnya bersembunyi di bahu Tiankai, suaranya tercekat dan tersela oleh isakan, berbisik.
"Aku nggak pernah mau melepaskan kamu."
Aku tidak pernah mau. Hanya saja aku tidak tahu bagaimana caranya mempertahankan kamu. Maaf karena sudah jadi laki-laki yang selemah ini. Maaf, maaf. Karena semua jadi begini. Sekarang, apa kamu masih mau menerima aku yang begini?
FONG TIANKAI
Dia tahu apa saja yang harus ia pentingkan.
Satu setengah tahun di negara asalnya dan matanya dibuka oleh berbagai hal. Dunia ini tidak sesempit Seoul semata. Dunia ini tidak sesempit hatinya. Dia ditarik pulang setelah tujuh tahun di negara orang, dan kalau keluarganya pikir itu sudah cukup, maka dia tidak diberi pilihan selain mencoba menerima. Hatinya tidak pernah benar-benar pergi, tetapi ada hari di mana ia mencoba melupakan dan berjalan lagi, kali ini di satu tempat saja, agar dia tidak usah berpikir terlalu banyak. Melepaskan lelah di pundak dan menerima saja apa yang diberikan kepadanya. Nyatanya, ada terlalu banyak yang ia dapatkan. Banyak jalan yang boleh ia pilih.
Dan lagi, ia tahu ini bukan hanya soal dirinya. Ini mengenai keluarganya, mengenai karirnya, tahun-tahun dan masa depannya yang masih akan datang. Dia tidak bisa goyah apabila hanya untuk keseharian yang tanpa tujuan. Dulu mereka bisa hidup seolah mereka punya banyak waktu. Mereka tidak perlu berencana. Cukup tinggal di saat ini saja, dan asal mereka bersama, mereka bahagia. Sebagaimana besarnya ia merindukan masa-masa itu, dia tidak bisa. Apa yang ia inginkan tidak akan dia ambil kalau memang tidak ada kepastiannya. Ada harga yang harus dibayar, kini--dan memilih satu tanpa berpikir matang hanya akan mengembalikan mereka ke petak yang sama.
Lebih baik menyudahi daripada mengulang kembali. Dia tidak ingin mereka berdua merasa sakit. Dia mengerti, dia tahu apa yang sedang ia minta, dan kalau itu terlalu berat, barangkali dia bisa melepaskan. Mungkin mereka sudah ada di jalan yang benar. Mungkin dia harus merelakan, sungguhan, meski tidak ada yang ia inginkan lebih daripada ini.
Di dalam gelap dia bisa melihat mata Seunghyun kali ini; sedikit lebih terang, lebih lembut, dan genggaman di tangannya menguat. Ada jeda, ada detik jarum jam, ada banyak yang seharusnya ia dengar apabila otaknya tidak beku dan badannya tidak kaku. Hanya ada satu, dua kalimat, dan sesuatu di dadanya lepas. Seperti katup yang terbuka. Seperti sekat yang akhirnya diangkat. Napasnya perlahan, detak jantungnya memburu, dan ketika ia sadar, Seunghyun mendekapnya erat dan kepalanya ada di bahunya.
Ia hanya ingin memejamkan mata dan mengingat momen ini lekat-lekat. Takut apa yang dipikirkannya menjadi nyata; tetapi kali ini takutnya lenyap, dan sesaat dia bingung harus merasa apa. Ada banyak yang mengaliri dadanya. Masih ada suara Seunghyun yang terdengar begitu jujur, dan perlahan, ada hangat yang meresap. Sesuatu terasa benar, dan dia merasa begitu ringan.
Ada rasa bahagia.
Lengannya melingkari tubuh Seunghyun dan refleks jemarinya bergerak, menyisiri rambut, di atas kulit kepala. Mengingat-ingat rasa yang sudah lama hilang. Matanya panas dan dekapannya semakin erat karena akhirnya, akhirnya, ia kembali merasa ditopang. Napasnya tercekat lagi karena ia mendengar Seunghyun mengisak dan tubuhnya bergetar, suaranya lirih. Ia memeluknya kuat dan tidak bisa berbicara. Kepalanya penuh dan kosong sekaligus, dia tidak bisa berpikir, semuanya meluap. Ia rindu, senang, rindu, bahagia, ringan, lepas, lega.
Ketika dia menarik diri untuk melihat Seunghyun, jemarinya masih bergetar. Ia mundur agar wajah pemuda itu bisa ditangkupnya dan dilihatnya seksama. Matanya merah dan basah. Air matanya sendiri menetes saat ia menghapus air mata dari pipi dan bawah mata Seunghyun, sembari bersuara seperti tertawa dan terisak. Dadanya bergemuruh. Suaranya seperti bisikan.
“Ayo menikah,”
Dia mengangguk, mengulang, jemari menyusur dahi, menyibak rambut yang memanjang, dan tertawa lagi. Mencoba tersenyum. Wajah yang ia rindukan tepat di hadapan, kini disentuh, ditatap, begitu dekat. Mereka berdua menangis dan dia tidak peduli. Terlalu banyak. Terlalu banyak.
Matanya memejam dan dahinya menyentuh milik Seunghyun; dan di saat itu mereka hanya berdua, tetapi Tiankai merasa kuat. Yakin.
“Gomawo.”
Tidak ada yang kuinginkan
lebih dari ini.
JAE SEUNGHYUN
Dia berpikir kalau dia masih terlalu kecil untuk semua itu, bahwa dia masih belum bisa dan dia juga dilanda ketakutan bahwa dia belum mampu. Dia tak yakin Tiankai mau--bahkan sekarang, ketika wajahnya ditangkup dan gadis itu mengulang kata-katanya dengan jelas, hanya beberapa jengkal dari wajahnya sendiri; ia dilanda kebingungan sekejap. Mencoba mencerna. Memastikan. Namun yang dia dengar itu benar, dan berikutnya gadis itu mendekat, kening menempel dengan ucapan terima kasih yang lirih;
Seunghyun tertawa.
Wajahnya pasti super bodoh sekarang, dan dulu mungkin dia akan segera pergi dan menghindar untuk menatap wajah Tiankai karena malu. Tapi untuk kali ini saja, tidak apa-apa. Untuk saat ini, dia hanya ingin diam. Mengulang apa yang baru dia katakan tadi dan mendengarkan kembali apa yang Tiankai katakan dalam hatinya. Aneh sekali karena hal-hal yang tadi terasa sangat menakutkan terasa bisa disentuh, biarpun masih belum berbentuk; tapi dia ada. Seunghyun bisa menyentuhnya. Dia tidak perlu takut untuk meraih lagi. Lebih dari sekarang, melangkah ke apa yang dulu bahkan tidak pernah terbayangkan oleh dirinya sendiri. Aneh karena kamu bisa merasa yakin hanya dengan kata-kata orang yang paling dia percayai; dan itu sudah cukup.
Dia tahu masih banyak yang mau dia katakan. Bahwa semua masih butuh perjuangan lebih banyak. Bahwa masih ada banyak hal yang harus mereka urusi. Bahwa ini baru sebuah mula. Bahkan di kepalanya sendiri kata hal itu masih asing, dan tentu saja pemuda itu masih belum benar-benar tahu apa yang menunggu, apa yang harus dia lakukan dan segalanya; tapi kali ini juga dia belum pernah merasa begitu yakin. Ada banyak yang ingin dia katakan; tentang apa dan bagaimana, beragam hal kecil, mengejar apa yang mereka lewatkan kemarin, membicarakan apa yang akan berubah.
Tidak apa-apa. Kali ini, dia punya kekuatan lagi. Dia bisa memikirkan lagi esok hari. Untuk saat ini, dia hanya ingin diam dan memastikan. Lengan yang merangkumnya dalam pelukan dan mata yang menatapnya sambil tersenyum, menahannya agar masih ada di sana. Rasanya baru tadi dia merasa tidak yakin, kebingungan dengan apa yang harus dikatakan dan ragu harus berbuat apa. Hanya dengan sebuah jawaban dan kini dia merasa dia bisa melakukan apa saja. Sentuhan di antara helai rambutnya dan jemari yang kemudian menyentuh pipinya dan keningnya. Jawaban yang diulang dan senyum yang muncul setelahnya.
Mungkin sejak awal, dia memang tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa karena itu saja sudah cukup. Mungkin sejak awal segala kekhawatirannya adalah hal yang sekarang terasa semudah ini.
"Sekarang aku bisa bilang," dia berkata, wajahnya tersenyum. Suaranya masih gemetar dan ujung-ujung jarinya masih dingin, namun kali ini merangkum wajah Tiankai dengan mantap, jemarinya menghapus sisa-sisa air mata yang menetes di wajahnya. Siapa yang peduli kalau mereka berdua menangis sekarang? Kali ini, wajahnya menampakkan kelegaan luar biasa; pemuda itu tertawa kecil, memandang gadis itu sesaat sebelum mendekat dan mencium bagian atas hidung Tiankai; bergumam perlahan. "Aku mencintaimu."
Tidak apa-apa. Biarpun nanti akan ada yang berubah lagi, tidak masalah. Ada yang mau menggenggam tangannya. Seunghyun memejamkan mata. Dia membayangkan tentang mereka berdua yang berpegangan tangan lagi, di tempat yang mereka kenal berdua, bersama-sama.
Dan itu sudah cukup.
It was like a roller coaster ride
of never ending questions
and it still is
But there is one thing
that I’m so damn sure of
and that is you.
(Nell – Newton’s Apple)
fin
of never ending questions
and it still is
But there is one thing
that I’m so damn sure of
and that is you.
(Nell – Newton’s Apple)
fin